Dr. SOETOMO DALAM DISKURSUS PESANTREN

353

Sebuah Catatan Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Muhammad Makhdum *

Gagasan Dr. Soetomo dalam diskursus pesantren tidak banyak dikenal, bahkan oleh kalangan pesantren sendiri. Sangat wajar mengingat Soetomo tidak terlahir dan dibesarkan dalam dunia pesantren, sebaliknya, ia disemai dan dipupuk oleh pendidikan Barat. Namanya sangat familiar dalam ikhtiar merajut gagasan kebangsaan dan kebangkitan nasional di era pra kemerdekaan, terutama peran sentralnya sebagai pendiri Boedi Oetomo pada 1908.

Meski pesantren telah ada di nusantara sejak abad ke 13, pergulatan pemikiran pesantren sendiri baru dikenal luas oleh kalangan akademik pada tahun 1930, melalui perdebatan publik yang dikenal dengan Polemik Kebudayaan (Ahmad Baso, 2013). Dalam perdebatan tersebut, gagasan dan pemikiran dunia pesantren dikemukaan oleh Soetomo. Mengapa justru Soetomo yang tampil membawakan narasi tentang pesantren, dan bukan dari kalangan pesantren itu sendiri?

Sebagian kalangan mungkin mendasarkan jawabannya pada ketidakmampuan pesantren mengartikulasikan ide dan gagasannya di muka umum. Akan tetapi, anggapan itu agaknya kurang tepat. Ketidakmunculan kalangan pesantren lebih disebabkan karena sifat tawadhu’ para ulama yang enggan menonjolkan diri secara langsung, terlebih dalam forum perdebatan. Sebagai gantinya, pesantren muncul ke ruang publik melalui proxy atau perwakilan pesantren, bukan melalui orang pesantren itu sendiri.

Soetomo berhasil mengambil peran sebagai proxy di panggung publik, berbicara mewakili suara pesantren, dan menggunakan bahasa-bahasa serta ideologi pesantren. Ada lima poin penting tentang pesantren yang menyokong ideologi kebangsaan dan memperkuat bangunan kebudayaan. Pertama, pesantren menanamkan pendidikan karakter yang kuat pada santri atau murid-muridnya. Kedua, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu (knowledge) tetapi juga mengembangkan keterampilan (life skill) untuk bekal hidup. Ketiga, pendidikan pesantren bersifat kebangsaan, cinta tanah air, dan kasih sayang kepada umat manusia. Keempat, para santri akan selalu siap mengabdikan diri untuk kepentingan umum. Kelima, pesantren mendidik jiwa dan mengasah kekuatan batin sebagai penunjang untuk hidup di tengah-tengah umat (Ahmad Baso, 2013).

Artinya, sejak dulu pesantren telah mengambil peran sebagai pusat pendidikan kebangsaan, persatuan, cinta tanah air, dan sebagai instrumen penjaga kebudayaan. Pesantren terbukti dapat hidup berdampingan dan tidak saling mematikan dengan semua elemen kehidupan yang lain, dimana peran ini masih terus dipertahankan hingga sekarang.

Berdasarkan kronika sejarah, gagasan pesantren tersebut turut mewarnai perjalanan berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Meskipun Boedi Oetomo saat itu masih bersifat Jawa sentris, akan tetapi dinamika gerakannya sangat kentara dalam merajut benang-benang persatuan kebangkitan nasional. Inspirasi pesantren sebagai nationaal onderwijs kemudian diadaptasi oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922 sebagai pondasi pendidikan Taman Siswa.

Pesantren sebagai Investasi Kultural
Soetomo dinilai berhasil menampilkan pesantren sebagai model bagaimana merawat tradisi dan identitas kebudayaan nusantara. Pesantren dianggap relevan menjadi agen investasi kultural yang mampu mengimajinasi hakikat dan karakter berbangsa. Dalam sejarahnya, pesantren memperkenlkan suatu peradaban yang sangat kaya dengan pencapaian kebudayaan dalam bidang agama, sastra, seni dan spiritualitas.

Di era milenial ini, eksistensi pesantren perlu dipertegas, terutama jika dihadapkan pada konteks global. Jika bangsa Jepang dan China mampu memobilisasi kekuatan kebudayaan mereka untuk bangkit dan menyaingi Barat, kaum nasionalis India mampu bangkit dan mengerahkan peradaban kulturalnya untuk memperkaya imajinasi kebangsaan. Maka pesantren harus diangkat untuk memperkuat peradaban kultural bangsa, melihat Indonesia dari sudut pandang keindonesiaan. Dari nilai-nilai pesantren inilah kebudayaan bangsa diracik, digodok, dan dimapankan untuk menuju kedaulatan, kemandirian, dan kebangkitan yang sejati. Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

*)Anggota Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Tuban, Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Apa Komentarmu?

SHARE