Imlek, Berkah Bagi Penjual Burung Pipit

428

kabartuban.com – Tahun Baru Imlek tak hanya membawa berkah bagi yang merayakan. Sejumlah pedagang burung mengaku mendapat rejeki berlipat, dikarenakan dagangan mereka yang laris dibeli warga Tionghoa, untuk tradisi pelepasan burung yang merupakan warisan nenek moyang.

Seperti yang terlihat di depan Klenteng Kwan Sing Bio, di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, yang menjadi tempat andalan pedagang burung menawarkan dagangannya.

“Alhamdulillah, ini sudah terjual lima ratus ekor mas,” ujar Joko Samudro (34) waga dari Kabupaten Jombang, Selasa (5/2/2019).

Ia pun mematok harga yang sama dengan pedagang lainnya, yakni Rp 2000 per ekornya, dan tahun ini joko sudah tahun ke sepuluh berjualan di Klenteng terbesar Se Asia Tenggara ini.

“Acara kirab maupun imlek pasti kami kesini,” tambahnya.

Pedagang lainnya Agus Ripin yang juga warga Kabupaten Jombang, mengaku datang bersama rombongan tujuh orang ke Tuban. Setiap ada kegiatan keagamaan di tempat peribadatan umat Tri Darma ini dia hampir selalu hadir membawa burung untuk dilepas. Ia dengan kawan-kawan datang ke Bumi Wali sejak Jumat (1/2/2019) yang lalu.

“Kalau ramai bisa menjual tujuh ribu hingga 9000 ekor,” tambahnya.

Sementara itu, di dalam klenteng terdapat banyak warga Tionghoa yang melakukan ritual pelepasan burung atau yang biasa disebut Fungshen, usai menggelar ritual sembahyang. Burung ini beli dari para pedagang yakni ripin dan kawan kawan

“Tradisi melepas burung atau hewan ternak, mengartikan sebuah keberkahan hidup di dunia. Untuk memanjangkan umur dan tradisi leluhur kami,” kata salah seorang warga Tionghoa, Irwan.

Menurutnya, pelepasan makhluk hidup dalam kepercayaan warga Tionghoa, menandakan perbuatan baik kepada sesama makhluk hidup lainnya.

“Tradisi ini tidak hanya dilakukan saat Imlek. Kita juga melakukan ini dua kali dalam sebulan, namanya itu Ceit dan Capgo yang merupakan sembayang umat Tionghoa,” tandasnya. (Dur/Rul) 

Apa Komentarmu?

SHARE