Tuban Siap Selenggarakan Pendidikan Inklusif

258
Sosialisasi dan Deklarasi pendidikan inklusif di Graha Sandiya Tuban.

kabartuban.com Dihadapan 700 guru, kepala Sekolah, dan Unit Pelaksana teknis Daerah (UPTD) Pendidikan dan pengawas pendidikan se Kabupaten Tuban, Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten yang siap menyelenggarakan pendidikan inklusif (19/12/2017).

Dalam kesempatan itu juga digelar sosialisasi terkait pendidikan inklusif dengan narasumber DR. Ahsan Romadlon Junaid, Kasi Kurikulum Pendidikan Khusus (PK) – Pelayanan Khusus (PLK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan DR Wagino dosen di Unesa Surabaya yang merupakan pendamping sosialisasi pendidikan inklusif dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

‘’Data penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Jawa Timur berjumlah 53.344 orang,’’ kata Ahsan Romadlon Junaid.

Dari jumlah itu, kata dia, 55,3 persen tidak sekolah, 36,2 persen ABK di sekolah luar biasa (SLB), dan 8,5 persen ABK di sekolah sekolah inklusif. Artinya, masih banyakm ABK yang belum menerima haknya untuk bisa sekolah di sekolah umum.

‘’Ini yang harus kita perjuangkan, karena ABK punya hak yang sama,’’ tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Tuban, DR Budi Wiyana meminta agar pendidikan inklusif didukung dan dilaksanakan dengan baik dan benar. Sebab, semua anak mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Masyarakat dan dunia pendidikan tidak boleh diskriminasi.

Beguitu juga dengan Sekretaris Dinas Pendidikan Nur Khamid, pendidikan inklusif di Kabupaten Tuban sudah dimulai pada tahun 2012, yang ditandai dengan terbit perbup. Hanya, saat itu pelaksanaannya belum maksimal, dan belum semua sekolah siap.

‘’Kalau sekarang harus siap. Setelah deklarasi ini, pendidikan inklusif harus benar-bener dilaksanakan. Tidak boleh ada lagi sekolah yang menolak ABK,’’ pesannya.

Pendidikan inklusif, lanjut dia, adalah pendidikan bagi anak yang mempunyai kebutuhan khusus agar mempunyai hak yang sama dan tidak membeda – bedakan yang satu dengan yang lainya.

‘’Dalam pendidikan kita tidak boleh membeda-bedakan yang kurang beruntung dan yang lebih beruntung. Maksudnya dalam hal pendidikan kita samakan yang berkebutuhan khusus dengan yang sempurna,’’ katanya.

Karena itu, untuk memperlancar program ini, semua pihak harus mendukung. ‘’Kita mohon kepada semua Kepala Sekolah isa menerima program ini dengan ikhlas,’’ tandasnya. (Dur)

Apa Komentarmu?

SHARE