Dampak Erupsi Semeru, Sungai dan Jembatan Tertutupi Abu Vulkanik

27
foot: lahar dingin gunung semeru (dokumentasi internet)

kabartuban.com – Dampak erupsi Semeru membuat akses ke Dusun Sumberlangsep, Jugosari, Kecamatan Candipuro, Lumajang kembali terputus. Warga setempat nyaris terisolasi lagi. Akibat empasan lahar dingin bertubi-tubi, sungai di bawah Jembatan Limpas Dusun Sumber Kajar-Dusun Sumber Langsep tertutup material lahar dingin.

Jembatan yang tadinya berada di ketinggian sekitar 7 meter dari sungai dan dataran aliran lahar, kini rata dengan endapan material lahar dingin.

“Saat ini saya di Jembatan Sumber Kajar menuju ke Sumber Langsep. Jembatannya sekarang rata dengan material lahar dingin,” ujar relawan Semeru dalam unggahan video.
Dari keterangan relawan dalam video yang dilihat detik.com hari ini, dampak erupsi itu membuat jembatan ke Desa Sumber Langsep tidak bisa dilalui. Sehingga warga harus memutar melalui material lahar dingin Semeru.

“Lahar dingin kemarin memutuskan jalur menuju ke Desa Sumber Langsep. Sekarang warga harus melewati material lahar dingin ke sana, untuk menuju ke perkampungan,” ujar relawan di video tersebut.

Anggota Senior Tim Rescue Ikatan Remaja Anti Narkotika Pecinta Alam (Irannala) yang akrab disapa Gun membenarkan bahwa video itu diambil oleh rekan relawannya.

“Benar itu diambil rekan saya. Jembatan itu jalur penghubung warga Sumber Langsep. Jadi muter itu. Memang nggak terlalu jauh, tapi medannya mengkhawatirkan,” ujar Gun yang dikutip dalam laman detik.com, Senin (19/12/2022).

Perlu diketahui, jembatan penghubung dari Dusun Sumber Kajar ke Sumber Langsep itu sempat putus pada Januari 2022. Jembatan itu kembali dibangun hingga bisa difungsikan pada November lalu.

Baca Juga:

Tinggal Menunggu SK Gubernur Jatim, Dana Banpol Tuban Naik Jadi 5 Ribu Per Suara

Menko PMK Sebut Tak Ada Pembatasan Perayaan Natal dan Tahun Baru

Pada saat jembatan itu terputus, warga Sumber Langsep sempat terisolasi. Aktivitas warga pun sempat terhambat. Meski warga masih bisa menuju ke perkampungan, tetapi karena terputusnya akses terusan Jembatan Sumber Kajar mereka harus memutar melalui material lahar dingin yang belum benar-benar keras.

“Sebenarnya erupsi kali ini lebih besar dari 2021 lalu. Hanya saja karena tahun lalu kurang antisipasi jadi banyak korban. Tahun ini, karena sudah belajar dari 2021, antisipasi sudah baik. Tapi kalau melihat dampak, lebih parah tahun ini sebenarnya,” kata Gun.

Hingga hari ini erupsi Gunung Semeru masih terus terjadi. Pada Senin pagi tadi sudah terjadi 2 kali erupsi. Yakni pada pukul 05.16 WIB dan pukul 07.03 WIB.
Erupsi yang terjadi pukul 05.16 WIB setinggi 400 meter di atas puncak mahameru atau 4.076 meter di atas permukaan laut.

“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara dan timur laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 20 mm dan durasi 111 detik,” kata Petugas Pos Pantau Gunung Semeru Mukdas Sofian dalam keterangannya. (nat/dil)