Harga Kedelai Naik, Beri Imbas Kenaikan Harga Tempe di Tuban

20
Ilustrasi/sumber: internet

kabartuban.com – Kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp16.000 per kilogram ini membuat produsen tempe di Kabupaten Tuban kelimpungan. Hal tersebut lantaran kenaikan kedelai memberikan imbas pada menurunnya permintaan pasar pada komoditas tempe, Sabtu (14/1/2023).

Imbas dari kenaikan harga kedelai yang cukup signifikan ini membuat para produsen tempe dan tahu memutar otak agar tidak mengalami kerugian dengan terpaksa menaikkan harga jualnya di pasaran.

Kayami, salah satu produsen tempe asal Desa Margosoko, Kecamatan Tuban, Kabupaten Bancar ini menyebutkan bahwa ia terpaksa menaikkan harga jual tempenya lantaran seluruh bahan baku penjunjang pembuatan tempe tersebut mengalami kenaikan harga.

“Semuanya naik. Jadi yang tadinya menjual harga Rp1.000 an sekarang naik jadi Rp2.000 an. Karena semuanya naik ini jadi kita kesulitan. Ditambah lagi, bahan baku naik, pasar sepi,” ucapnya.

Baca juga : Tahun 2022 Antusiasme CJH di Tuban Meningkat

Baca juga : Tradisi Tuban Yang Masih Lestari Hingga Kini

Masih lanjut Kayami, penurunan jumlah pembelinya saat ini mencapai kurang lebih 30 persen dari biasanya. Hal tersebut selain karna faktor harga tempe yang mengalami kenaikan, juga karena banyaknya petani yang mengalami gagal panen.

“Selain dari harga naik, juga karena faktor alam yang sepi mbak, petani juga banyak yang gagal panen. Penurunan kira-kira 30 persen, karena itu maka otomatis produksi dikurangi. Jadi biasanya dalam sehari bisa memproduksi 40 kilogram kacang kedelai, sekarang hanya bisa memproduksi 35 kilogram saja,” lanjutnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia berharap agar pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban dapat mendengarkan keluh kesah para produsen tahu dan tempe, sehingga harga kacang kedelai bisa kembali stabil.

“Saya berharap agar harga kedelai bisa stabil, biar kita selaku pengusaha tempe dan tahu bisa berjalan lancar,” harapnya. (hin/dil)