Sidang Pembongkaran Stadion Kanjuruhan Malang, Jaksa Hadirkan 15 Saksi

17
Kasubsi Penuntutan Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Kabupaten Malang Rendy Aditya

kabartuban.com – Jaksa hadirkan 15 saksi dalam sidang lanjutan kasus pembongkaran pagar Stadion Kanjuruhan Malang pada Selasa (31/1/2023) mendatang.

Sidang akan berlangsung secara online dengan para terdakwa yakni Fernando Hasyim Ashari (19), warga Jalan Ir. Juanda IX, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang dan Yudi Santoso (46), warga Jalan Tenun, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang berada di Lapas Kelas I Malang. Di ruang persidangan, dua terdakwa diwakili tiga penasehat hukum (PH), salah satunya Gunadi Handoko.

Adapun agenda sidang perdana kemarin hanya pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Sri Mulika, S.H. Karena tidak ada esepsi dari PH dan siding akan dilanjutkan pada Selasa (31/1/23) dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Dilansir dari beritajatim.com, Kasubsi Pidum Kejari Malang, Rendy Aditya menjelaskan bahwa total ada 15 orang saksi yang siap dihadirkan dalam sidang perkara ini. Namun, untuk tahap pertama pada Selasa (31/1/2023) nanti baru 5 orang saksi yang akan dipanggil untuk diminta keterangan dalam persidangan.

“Ada lima saksi dulu nanti. Yakni tiga saksi dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang, salah satunya Plt Kadispora Nurcahyo. Sedangkan dua saksi lagi adalah pekerja CV yang melakukan pembongkaran,” jelas Rendy Aditya.

Baca juga : Komitmen Cegah Tipikor, Kejari Tuban: Peran Masyarakat Sangat Dibutuhkan

Baca juga : Kronologi dan Duduk Perkara Pembakaran Alquran oleh Rasmus Paludan di Swedia

Dari 15 orang saksi dalam kasus pembongkaran fasilitas Stadion Kanjuruhan ini, salah satunya adalah dari pihak PT Anugerah Citra Abadi (ACA).

“Sementara baru lima orang saksi dulu. Nanti lihat perkembangan sidang, kalau memang diperlukan ada pemeriksaan saksi lagi, akan kami hadirkan saksi lainnya. Termasuk dari pihak PT ACA,” katanya.

Kedua terdakwa ini dijerat Pasal 170 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1e KUHP dan Pasal 406 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1e KUHP.