kabartuban.com – Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Dinas Pendidikan berencana menghadirkan program pembiasaan mengaji bagi siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri mulai tahun ajaran baru. Program yang disebut sebagai “Jam Nol Mengaji” itu disiapkan sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan keagamaan di lingkungan sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, Irma Putri Kartika menjelaskan, program tersebut tidak selalu dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Waktu pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
“Jam nol bukan berarti harus dimulai pukul 06.00 WIB. Bisa juga dilaksanakan setelah kegiatan belajar selesai. Yang terpenting ada tambahan waktu khusus untuk pembelajaran agama melalui kegiatan mengaji,” ujarnya kepada awak media.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Dinas Pendidikan berencana melibatkan ustaz dan ustazah dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di sekitar sekolah. Mereka akan menjadi tenaga pengajar tambahan yang khusus memberikan pembelajaran mengaji kepada para siswa.
Meski demikian, Dinas Pendidikan menegaskan tenaga yang dilibatkan bukan merupakan perekrutan pegawai baru maupun tenaga honorer. Mekanisme penugasannya masih dalam tahap penyusunan, termasuk skema pembiayaan dan bentuk honorarium yang akan diberikan.
“Ini bukan penambahan ASN maupun non-ASN. Mereka adalah guru ekstra yang akan membantu pembelajaran agama di sekolah. Teknisnya masih kami rumuskan,” jelasnya.
Selain program mengaji, Dinas Pendidikan juga tengah menyiapkan sejumlah pembenahan lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Tuban. Di antaranya pemetaan kekurangan guru, penerapan pembelajaran multigrade di sekolah dengan jumlah murid terbatas, hingga penyediaan transportasi gratis bagi peserta didik.
Menurutnya, seluruh kebijakan tersebut tidak akan diterapkan secara tergesa-gesa. Dinas Pendidikan masih mempersiapkan berbagai aspek, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, penyusunan metode pembelajaran, hingga pelatihan bagi tenaga pendidik agar pelaksanaannya berjalan optimal.
“Kami ingin membenahi pendidikan dari dalam. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan salah paham di masyarakat. Karena itu semuanya harus dipersiapkan secara matang,” pungkasnya. (fah)
