kabartuban.com – Pemandangan tak biasa terjadi di sebuah perairan bekas galian tambang galian C di Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Ribuan ikan air tawar ditemukan mati setelah sebelumnya terlihat megap-megap di permukaan air.
Fenomena tersebut mulai menarik perhatian warga sejak Jumat (24/7/2026). Ikan-ikan yang biasanya berada di dalam perairan tiba-tiba muncul ke permukaan dalam kondisi lemas. Sebagian bahkan terlihat berenang tak beraturan dan terus membuka-menutup mulut seperti kesulitan bernapas.
Kondisi itu kemudian dimanfaatkan sejumlah warga untuk menangkap ikan yang masih hidup menggunakan jaring dan peralatan seadanya. Namun, beberapa hari berselang, ikan-ikan tersebut justru ditemukan mati dan mengapung memenuhi permukaan perairan.
Salah seorang warga sekitar mengatakan, tanda-tanda kematian ikan sebenarnya sudah terlihat sebelum peristiwa tersebut ramai diperbincangkan.
Menurutnya, sejak beberapa hari sebelumnya ikan mulai bermunculan ke permukaan dan menunjukkan gejala seperti kekurangan oksigen. Warga yang melihat kondisi itu kemudian mengambil ikan yang masih bisa ditangkap.
“Bahkan sebelum Jumat itu ikan-ikannya sudah muncul ke permukaan dan mangap-mangap seperti kekurangan oksigen. Banyak warga yang mengambil, ada yang sampai dapat dua karung,” ujarnya.
Sebagian ikan yang ditangkap warga bahkan sempat dikonsumsi. Namun, hingga kini belum ada laporan warga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi ikan tersebut.
Meski demikian, warga mulai mempertanyakan penyebab kematian ikan secara massal tersebut. Mereka menduga ada faktor lain selain perubahan cuaca yang menyebabkan ikan di perairan itu mati.
“Kalau soal cuaca di sekitar sini ada tiga titik, tapi kok yang mati hanya di situ saja. Kalau faktor cuaca kayaknya enggak deh,” katanya.
Dugaan mengenai penyebab kematian ikan pun semakin berkembang. Mulai dari berkurangnya kadar oksigen dalam air, perubahan kualitas air, hingga kemungkinan adanya pencemaran. Namun, seluruh dugaan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan karena belum ada hasil pemeriksaan laboratorium.
Di sisi lain, keberadaan perairan tempat ribuan ikan mati tersebut juga menyisakan pertanyaan mengenai status dan pengelolaannya.
Terpisah, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban menyatakan akan menelusuri kejadian tersebut. Kepala Bidang Tata Lingkungan, Pengendalian Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan DLHP Tuban, Andi Setiawan, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait kematian massal ikan tersebut.
Meski begitu, DLHP Tuban memastikan akan melakukan pengecekan setelah memperoleh informasi mengenai titik lokasi secara pasti.
“Setelah kami tahu lokasi pastinya, kami akan segera memeriksa keadaan di lapangan,” kata Andi.
DLHP juga mengingatkan masyarakat agar tidak menangkap atau mengonsumsi ikan yang ditemukan mati maupun ikan yang berasal dari perairan tersebut sebelum ada kepastian mengenai penyebab kematian.
Menurut Andi, pemeriksaan lebih lanjut juga tidak menutup kemungkinan dilakukan melalui uji laboratorium untuk mengetahui kondisi kualitas air dan faktor yang menyebabkan ribuan ikan mati.
“Tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti matinya ikan-ikan tersebut,” ujarnya.
Kini, misteri kematian ribuan ikan di perairan bekas galian tambang tersebut masih menunggu jawaban. Apakah ikan mati akibat kekurangan oksigen, perubahan kualitas air, atau ada faktor lain yang memicu kematian massal?
Jawaban atas pertanyaan itu diharapkan dapat terungkap setelah DLHP Tuban melakukan pemeriksaan langsung dan, jika diperlukan, mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium. (fah)
