kabartuban.com – Tidak ada yang menyangka, keputusan sederhana sepasang orang tua memasukkan putrinya ke klub renang agar tidak lagi takut air justru menjadi awal lahirnya seorang atlet berprestasi.
Adalah Salwa Kaysa Adnafika (11), siswi kelas IV UPT SDN Tasikmadu 1, Kabupaten Tuban, yang kini berhasil mengharumkan nama daerah kabupaten Tuban setelah meraih Juara I Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang renang putri tingkat Provinsi Jawa Timur. Gelar tersebut sekaligus mengantarkannya menjadi wakil Jawa Timur pada O2SN tingkat nasional.
Prestasi itu diraih Salwa dalam ajang O2SN SD yang berlangsung di Kolam Renang GOR Delta Sidoarjo, Selasa (30/6/2026). Atlet binaan Megalodon Aquatic Club Tuban (MACT) tersebut berhasil mengungguli peserta terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Namun, medali yang kini tergantung di lehernya bukanlah akhir dari sebuah perlombaan, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai dari ketakutan seorang anak terhadap air.
Sang ayah, Rusmiyadi, mengenang bahwa awalnya ia dan istrinya, Yani, sama sekali tidak memiliki target agar putrinya menjadi atlet. Mereka hanya ingin Salwa mampu berenang dan memiliki keberanian berada di dalam air.
“Kami memasukkan Salwa ke klub renang hanya supaya dia tidak takut air. Sama sekali tidak terpikir suatu hari bisa menjadi juara provinsi, apalagi mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional,” ujarnya.
Seiring waktu, bakat Salwa mulai terlihat. Latihan yang awalnya sekadar aktivitas pengenalan air berubah menjadi rutinitas yang dijalani dengan penuh disiplin. Di usianya yang masih belia, Salwa harus pandai membagi waktu antara sekolah, belajar, berlatih, hingga menjaga pola makan dan waktu istirahat. Semua dijalani tanpa keluhan.
Saat namanya diumumkan sebagai juara O2SN Jawa Timur, Salwa mengaku sempat tidak percaya.
“Saya senang sekali. Tidak menyangka bisa juara satu dan mendapat kesempatan mewakili Jawa Timur di tingkat nasional,” tuturnya.
Bagi Salwa, lawan terberat bukan hanya peserta dari daerah lain, melainkan dirinya sendiri. Ia berusaha memecahkan catatan waktu terbaik atau personal best yang selama ini menjadi target latihan.
Kerja keras itu akhirnya terbayar. Target yang dipasang bersama pelatih berhasil dilampaui, sekaligus mengantarkannya menjadi yang terbaik di Jawa Timur.
Di balik kesuksesannya, Salwa menyebut banyak orang yang menjadi sumber semangat. Mulai dari orang tua, pelatih, guru, teman-teman, hingga hewan peliharaan kesayangannya.
“Orang tua, kakak-kakak pelatih, guru, teman-teman, bahkan kucing dan ikan cupang saya juga jadi penyemangat,” ucapnya sambil tersenyum.
Kini mimpi Salwa semakin besar. Ia ingin terus berprestasi hingga mampu tampil di ajang internasional, termasuk ASEAN School Games. Sosok perenang dunia asal Amerika Serikat, Katie Ledecky, menjadi inspirasinya untuk terus berkembang.
Bagi Rusmiyadi, keberhasilan putrinya adalah buah dari proses panjang yang dijalani bersama keluarga. Ia mengakui, tidak mudah membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi Salwa berlatih maupun mengikuti berbagai kejuaraan. Namun, semua pengorbanan terasa sepadan ketika melihat putrinya mampu berkembang.
“Dukungan orang tua sangat penting. Anak akan merasa lebih percaya diri kalau tahu selalu ada yang mendukung di belakangnya,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut berperan dalam perjalanan Salwa, mulai dari para pelatih di Megalodon Aquatic Club Tuban, pihak sekolah, guru-guru, keluarga besar, hingga masyarakat yang terus memberikan doa dan dukungan.
“Prestasi ini bukan hanya hasil kerja keras Salwa, tetapi juga hasil dukungan banyak pihak yang selalu percaya dan mendampinginya,” imbuhnya.
Perjalanan Salwa menjadi pengingat bahwa prestasi besar sering kali berawal dari langkah yang sederhana. Keinginan orang tua agar anaknya tidak lagi takut air kini telah mengantarkan seorang gadis kecil asal Tuban berdiri sebagai juara Jawa Timur dan bersiap membawa nama provinsi di panggung nasional.
Keluarga berharap Salwa tetap rendah hati, terus berlatih, dan suatu hari nanti mampu mengibarkan Merah Putih di ajang internasional. Kisahnya juga menjadi inspirasi bahwa ketika bakat anak dikenali sejak dini dan didukung dengan konsisten, mimpi yang semula terasa jauh dapat perlahan menjadi kenyataan. (fah)
