kabartuban.com – Suasana Hari Raya Iduladha yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga diperkirakan terasa berbeda bagi sebagian warga di Kabupaten Tuban tahun ini. Di tengah tradisi bakar sate dan berkumpul bersama keluarga, ratusan perempuan di Bumi Wali harus menghadapi kenyataan pahit usai rumah tangganya berakhir di meja hijau.
Data Pengadilan Agama (PA) Tuban mencatat, sepanjang Januari hingga April 2026 terdapat 864 perkara perceraian yang masuk. Dari jumlah tersebut, sebanyak 799 perkara telah diputus, sementara 65 lainnya masih menjalani proses persidangan.
Panitera Muda Permohonan PA Tuban, Wawan, mengatakan tingginya angka perceraian membuat aktivitas persidangan nyaris tidak pernah sepi. Dalam satu pekan, sidang perceraian digelar sekitar tiga kali dengan puluhan perkara yang ditangani setiap harinya.
“Setiap kali sidang, rata-rata ada sekitar 30 perkara yang ditangani. Jadi dalam seminggu kurang lebih ada 90 perkara yang diputus,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Dari ratusan perkara tersebut, kasus Cerai Talak mendominasi dengan total 366 perkara. Sebanyak 317 di antaranya telah diputus pengadilan.
Menurut Wawan, persoalan ekonomi masih menjadi faktor utama pemicu perceraian. Selain itu, kehadiran orang ketiga atau perselingkuhan juga menjadi penyebab yang cukup sering muncul dalam persidangan.
Tak hanya itu, konflik rumah tangga lainnya seperti campur tangan keluarga, perjudian, pernikahan paksa, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kebiasaan mabuk-mabukan, hingga persoalan poligami turut memperparah kondisi rumah tangga pasangan suami istri.
“Ada juga beberapa perkara karena pihak istri menolak dipoligami,” tambahnya.
Meski angka perceraian terus meningkat, Pengadilan Agama Tuban tetap mengupayakan proses mediasi bagi pasangan yang berperkara. Sejumlah pasangan disebut masih memiliki peluang untuk berdamai dan mempertahankan rumah tangga mereka.
Fenomena tingginya angka perceraian ini menjadi perhatian tersendiri, terutama menjelang momen Iduladha yang identik dengan kebersamaan keluarga. Di balik semarak perayaan kurban, tak sedikit warga yang kini harus menjalani hari raya dengan situasi rumah tangga yang telah berubah. (fah)
