kabartuban.com – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur menyatakan dukungannya terhadap upaya penguatan literasi energi nasional, terutama terkait kualitas bahan bakar dan transisi menuju energi bersih yang tengah digalakkan Pertamina Patra Niaga.
Ketua Umum BADKO HMI Jatim, M. Yusfan Firdaus, menegaskan pentingnya kesadaran publik dalam memahami proses dan kualitas energi yang digunakan masyarakat sehari-hari.
“Kita tidak bisa berbicara tentang kedaulatan energi tanpa kesadaran rakyat terhadap kualitas dan proses distribusi bahan bakar yang mereka gunakan,” ujarnya.
Menurut Yusfan, di tengah disrupsi energi global dan meningkatnya kebutuhan bahan bakar nasional, literasi energi harus menjadi bagian penting dari pendidikan publik. Ia menilai langkah Pertamina Patra Niaga yang melakukan investigasi internal menyeluruh terkait kualitas bahan bakar di seluruh jaringan SPBU merupakan bentuk nyata tanggung jawab korporasi terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Kualitas layanan energi adalah persoalan moral publik. Ketika Pertamina Patra Niaga terbuka terhadap keluhan konsumen dan memperbaiki sistem distribusi secara transparan, itu menandakan adanya semangat baru dalam tata kelola energi nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, BADKO HMI Jatim juga memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif Pertamina Patra Niaga dalam edukasi bioetanol sebagai energi ramah lingkungan dan bagian dari transisi menuju energi berkelanjutan.
Menurut Yusfan, isu bioetanol bukan hanya soal teknis energi, tetapi juga menyangkut komitmen moral bangsa terhadap keberlanjutan generasi mendatang.
“Bioetanol dan energi hijau adalah masa depan. Tapi masa depan itu hanya bisa dicapai jika masyarakat memahami prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya,” ujarnya.
HMI pun mendorong kampus, masyarakat, dan pemerintah daerah untuk ikut aktif dalam gerakan literasi energi, agar publik menjadi mitra kritis sekaligus pendukung inovasi energi nasional.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga terus memperkuat komitmennya terhadap kebijakan pemerintah untuk menurunkan emisi karbon menuju Net Zero Emission 2060. Salah satu wujudnya adalah menghadirkan Pertamax Green 95, bahan bakar dengan kandungan 5% bioetanol (E5) yang telah dua tahun beredar di pasaran.
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa Pertamax Green 95 merupakan campuran antara gasoline dan bioetanol berbahan dasar tebu, dengan bahan baku lokal dari Mojokerto, Jawa Timur.
“Produk ini diolah dengan penambahan etanol nabati sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan lebih ramah bagi lingkungan,” kata Roberth.
Ia menambahkan, hingga kini Pertamax Green 95 telah tersedia di 170 SPBU yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Tangerang Selatan, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Dengan semakin luasnya distribusi, masyarakat kini kian mudah menemukan Pertamax Green 95, baik di perkotaan maupun daerah.
“Bahan bakar ini menghadirkan keseimbangan antara performa kendaraan dan kepedulian terhadap lingkungan sebuah langkah kecil yang membawa Indonesia menuju masa depan energi yang lebih hijau,” pungkas Roberth. (fah)
