kabartuban.com – Ketegangan antara warga Desa Bogorejo, Kecamatan Bancar, dengan PT RSS kian menguat. Dalam audiensi yang digelar Rabu (4/2/2026) di balai Desa Setempat, warga secara tegas meminta perusahaan pencucian pasir kuarsa tersebut agar menghentikan produksi apabila infrastruktur pengelolaan limbah belum siap dan masih mencemari lingkungan.
Audiensi yang berlangsung di hadapan pemerintah desa, Forkopimka, dan perwakilan perusahaan itu merupakan tindak lanjut dari aksi geruduk warga pada Senin (2/2/2026). Dan di ketahui aksi protes warga merupakan bukan pertama kalinya namun sudah ke empat. Aksi tersebut dipicu kondisi jalan Pantura yang licin akibat lumpur, serta air laut dan tambak yang berubah keruh.
Pewakilan warga nanang dalam forum audiensi membacakan sejumlah tuntutan utama. Warga menegaskan PT RSS tidak boleh mencemari lingkungan, terutama laut, dengan alasan apa pun. Selain itu, kendaraan yang keluar masuk pabrik dilarang membawa limbah atau kotoran, termasuk lumpur yang menempel di roda kendaraan.
“Semua kendaraan wajib dibersihkan sebelum keluar pabrik. Kalau ada kotoran di jalan Pantura, perusahaan harus bertanggung jawab membersihkan,” tegasnya
Warga juga menyoroti tidak adanya sosialisasi sejak awal pendirian perusahaan. Mereka menilai minimnya komunikasi menjadi akar konflik yang memicu kemarahan warga. Bahkan, warga menyatakan berhak menuntut hingga menutup operasional perusahaan jika masih ditemukan limbah cair keruh keluar dari area pabrik.
“Kami tidak menuntut yang muluk-muluk. Hanya satu, jangan mencemari lingkungan kami,” ujarnya
Selain isu lingkungan, warga juga meminta PT RSS memprioritaskan penyerapan tenaga kerja dari Desa Bogorejo. Mereka mengusulkan mekanisme rekrutmen dilakukan melalui pemerintah desa, dengan tenggang waktu khusus bagi warga lokal sebelum lowongan dibuka untuk pekerja luar desa.
Dalam audiensi tersebut, perwakilan warga tambak turut menyampaikan dampak nyata pencemaran yang menyebabkan lumpur masuk ke saluran tambak dan mengganggu produksi
“Kalau air keruh, pertumbuhan udang tidak maksimal, bahkan gagal panen,” keluhnya
Menanggapi tuntutan tersebut, perwakilan PT RSS yang disampaikan Muhamad Imron, quality Control, menyatakan bahwa melubernya limbah di tambak dan laut itu karena terdapat tanggul yang jebol. Menurutnya, tanggul yang ada sebelumnya kurang tebal dan tidak mampu menahan volume lumpur produksi.
Pihak perusahaan mengklaim telah mulai melakukan pembenahan. Saat ini, PT RSS telah membangun lima kolam filterisasi dan merencanakan penambahan kolam lumpur di sisi selatan untuk mencegah aliran limbah menuju tambak dan laut.
Selain itu, perusahaan berjanji akan menyiapkan dua tim khusus untuk mencuci ban kendaraan yang keluar masuk pabrik. Langkah tersebut diambil guna memastikan tidak ada lagi lumpur yang tercecer ke jalan umum.
Namun klarifikasi tersebut belum sepenuhnya meredakan kekecewaan warga. Dalam forum itu, warga menilai alasan tanggul jebol tidak dapat dijadikan pembenaran untuk tetap berproduksi.
“Kalau tanggul jebol, seharusnya produksi dihentikan dulu untuk perbaikan, bukan malah diteruskan,” tegas salah satu perwakilan warga lainya.
Sementara itu PLT camat Bancar Araman Mitra menyampaikan bahwa Hasil audiensi menyepakati bahwa PT RSS siap untuk menindaklanjuti permintaan dari warga.
“Audiensi berjalan lancar dan sudah menemui kesepakatan bersama anatara pihak warga dan perusahaan,”
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh perwakilan warga dan perusahaan, serta diketahui pemerintah desa dan Forkopimka.
Warga juga menegaskan. Jika di kemudian hari masih ditemukan pembuangan limbah atau pencemaran lingkungan, mereka menyatakan siap melakukan penutupan massal terhadap operasional perusahaan.
“Kami beri waktu. Tapi kalau kejadian ini terulang, penutupan akan dilakukan,” tegas perwakilan warga menutup audiensi. (fah)



