Sempat Memanas, Perayaan Imlek di Kwan Sing Bio Diwarnai Konflik Kepengurusan Klenteng

kabartuban.com – Pesta rakyat dalam rangka perayaan Imlek di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Kwan Sing Bio, Minggu (22/02/2026), tak hanya dipadati atraksi budaya dan lautan pengunjung. Di balik kemeriahan barongsai dan reog, terselip dinamika perebutan kendali kepengurusan klenteng legendaris di Kabupaten Tuban.

Sejak pagi, ratusan warga memadati halaman klenteng yang menjadi salah satu ikon religi dan wisata di pesisir utara Jawa tersebut. Dentuman kendang reog berpadu dengan tabuhan barongsai, sementara panitia membagikan kupon undian setiap satu jam sekali hingga sore hari.

Namun sebelum acara benar-benar menghangat, suasana sempat menegang. Kubu Go Tjong Ping, yang mengklaim sebagai pimpinan terbaru TITD Kwan Sing Bio, berhadapan dengan pihak pengelola dari Surabaya yang disebut tidak memberikan izin kegiatan.

Ketegangan itu tak berlangsung lama. Seiring pengunjung yang terus berdatangan, kegiatan tetap dilanjutkan dan dipusatkan di halaman dalam klenteng.

Go Tjong Ping menegaskan, kepengurusan saat ini berada di bawah kendali pihaknya. Ia menyebut masa swakelola oleh Sudomo Margonoto, Ali Markus, dan Paulus Willy Efendi telah berakhir pada 31 Desember 2024.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Sudomo, Ali Markus, dan PW Efendi yang telah membantu mengelola selama empat tahun terakhir,” ujarnya kepada awak media.

Ia menyatakan, ke depan kegiatan serupa akan digelar rutin, minimal sebulan sekali. Menurutnya, klenteng perlu kembali menjadi ruang pertemuan budaya sekaligus penggerak ekonomi warga.

“Kalau ada kegiatan seperti ini, perputaran ekonomi di Tuban bisa besar. Penginapan penuh, UMKM bergerak. Sayang sekali 14 tahun tidak ada kegiatan karena tidak ada pengurus,” katanya.

Dalam perayaan tersebut, panitia menghadirkan kesenian tradisional seperti barongsai dan reog. Tjong Ping menyebut pemilihan reog bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat makna simbolik. Ia meyakini reog dapat membawa berkah dan menangkal hal-hal buruk, bahkan dipercaya mampu “menambak” atau menghalangi hujan.

Meski acara berlangsung meriah, polemik kepengurusan belum sepenuhnya usai. Hingga berita ini diturunkan, Sudomo Margonoto belum memberikan tanggapan resmi terkait persoalan tersebut.

Di tengah tarik-menarik kepentingan itu, masyarakat tampak tetap menikmati perayaan. Bagi sebagian warga, Imlek tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan penanda kembalinya denyut aktivitas di klenteng yang lama vakum dari agenda besar. (fah)

Populer Minggu Ini

Swadaya Warga Jadi “Alarm Keras”, Akademisi Unirow Sentil Arah Pembangunan Tuban

kabartuban.com - Fenomena warga yang turun tangan memperbaiki jalan...

Jalan Widang–Rengel Rusak Parah, Lubang Menganga Jadi Ancaman Nyata Pengendara

kabartuban.com - Jalan penghubung Kecamatan Widang menuju Kecamatan Rengel...

Nyalip di Tikungan, Mobil Program MBG Tabrak Pasutri di Senori

kabartuban.com - Aktivitas siang yang seharusnya berjalan tenang di...

Bangun Deso Dipertanyakan, Jalan Rusak di Dusun Selang Diperbaiki Swadaya Para Remaja

kabartuban.com - Jalan penghubung Dusun Selang, Desa Jadi, Kecamatan...

Ratusan Warga Tuban Pilih Berpisah di Tengah Ramadan hingga Lebaran

kabartuban.com - Di saat suasana bulan suci Ramadan hingga...

Artikel Terkait