Home HEADLINE Belasan Bulan Dibiarkan, Listrik Drop di Mentoso Rusak Peralatan elektronik Warga

Belasan Bulan Dibiarkan, Listrik Drop di Mentoso Rusak Peralatan elektronik Warga

27

kabartuban.com – Di tengah kehidupan modern yang bergantung pada listrik, warga Dusun Mlangwe, Desa Mentoso, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, justru dipaksa hidup dalam keterbatasan. Listrik di wilayah tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara normal dan hanya cukup untuk menyalakan lampu.

Bukan karena penghematan energi, melainkan karena tegangan listrik yang tidak stabil. Warga menyebut, tegangan tertinggi hanya mencapai sekitar 180 volt jauh di bawah standar normal.

Akibatnya, penggunaan peralatan elektronik seperti kipas angin, AC, mesin cuci, pompa air (Sanyo), televisi, kulkas, hingga komputer menjadi berisiko tinggi rusak.

Andi, salah satu warga, mengaku telah merasakan langsung dampak kerusakan tersebut. Sejumlah barang elektronik miliknya tak lagi berfungsi sejak listrik di desanya bermasalah.

“Punyaku Sanyo dan komputer rusak. Di masjid kulkas rusak, tetangga mesin cuci, ada juga televisi yang rusak. Kebanyakan mesin cuci warga yang rusak, Mas,” ujarnya dengan nada kesal.

Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar satu setengah tahun. Namun, dalam empat bulan terakhir, situasi semakin parah. Listrik hanya cukup untuk penerangan, sementara alat lain nyaris tak bisa digunakan.

“Cuma lampu yang bisa dinyalakan. Kipas tidak bisa kencang, AC naik turun tidak bisa dingin. Normal itu baru sekitar jam 2 malam, AC baru bisa dingin,” keluhnya.

Tak hanya berdampak pada kerusakan elektronik, kondisi tersebut juga menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Pompa air kerap tidak mampu bekerja optimal.

“Di sini jadi sulit air. Sanyo kadang kuat, kadang tidak. Air yang keluar juga kecil,” tambahnya.

Andi menduga, kondisi ini dipicu meningkatnya penggunaan pompa air bor (sibel) di wilayahnya. Meski demikian, ia menilai persoalan utama ada pada kapasitas daya listrik yang tidak mencukupi.

“Kami sudah lama lapor ke PLN, tapi belum ada tindakan. Mereka mungkin tidak merasakan langsung dampaknya. Saya sendiri jadi tidak bisa kerja karena takut menyalakan komputer,” ujarnya.

Warga berharap PLN segera mengambil langkah konkret, terutama dengan mengganti trafo yang dinilai sudah tidak mampu menampung beban listrik. Jika dalam waktu dekat tidak ada penanganan, warga mengancam akan melakukan aksi protes.

“Kalau dua minggu belum ada penanganan, warga siap aksi,” tegasnya.

Kepala Desa Mentoso, Eko Harianto, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut pihak desa telah melaporkan persoalan itu kepada PLN untuk segera ditindaklanjuti.

“Kami sudah laporkan. Untuk perbaikan memang menjadi kewenangan PLN, mungkin masih dalam proses,” katanya.

Eko juga mengaku turut merasakan dampak ketidakstabilan listrik. Bahkan, ia harus mengganti peralatan elektronik miliknya yang rusak.

“Mesin cuci saya sering rusak, akhirnya terpaksa beli baru,” ungkapnya.

Untuk menjaga pelayanan di kantor desa tetap berjalan, pihaknya bahkan harus membeli stabilizer (stavolt) agar perangkat elektronik di kantornya tidak rusak.

Sementara itu, Manager PLN ULP Tuban, Baskoro Ocky, melalui stafnya Pandu, membenarkan adanya gangguan pada trafo di wilayah tersebut.

“Sementara trafo diganti dengan trafo mobile. Kalau masih terjadi drop tegangan, bisa dilaporkan melalui aplikasi PLN Mobile agar segera ditangani,” jelasnya.

Ketika ditanya awak media lebih detail, pihaknya menyarankan agar langsung bertemu dengan maneger ULP PLN Tuban atau melalui teknisinya pada awal bulan besok, lantaran saat ini Baskoro masih berada di luar daerah. (fah)