Home EKONOMI Pasar Lesu, Harga Kambing di Tuban Turun Tajam Selama Delapan Bulan Terakhir

Pasar Lesu, Harga Kambing di Tuban Turun Tajam Selama Delapan Bulan Terakhir

8

kabartuban.com – Selama kurang lebih delapan bulan terakhir, para peternak kambing di Kabupaten Tuban harus menghadapi kenyataan pahit akibat turunnya harga jual kambing. Kondisi ini dinilai cukup memberatkan, terlebih di tengah harga pakan yang masih relatif tinggi.

Penurunan harga tersebut memaksa peternak untuk memutar otak, mencari strategi agar tetap bisa bertahan. Bahkan saat ini, dengan kisaran harga Rp500 ribu hingga Rp600 ribu, pembeli sudah bisa mendapatkan kambing yang siap potong, tergantung kualitasnya.

Ali, peternak asal Kecamatan Semanding, mengatakan masa sulit ini sudah dirasakan sejak pertengahan tahun 2025. Meski demikian, ia mulai melihat sedikit perbaikan harga pada pertengahan bulan Ramadan, dengan kenaikan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

“Di sini peran kemitraan sangat diuji. Saya dan para mitra harus bisa saling bekerja sama agar tetap mendapatkan keuntungan. Kalau berjalan sendiri, biasanya lebih sulit karena saat menjual kambing tidak ada yang membantu mendapatkan harga terbaik,” ujarnya.

Menurut Ali, kambing dengan kualitas bagus yang sebelumnya bisa dijual seharga Rp3,5 juta, kini turun menjadi sekitar Rp3 juta hingga Rp2,8 juta. Sementara kambing berusia 4–5 bulan sudah bisa dijual mulai Rp500 ribuan dan siap potong, meskipun tetap bergantung pada kualitas.

Pria yang sudah menjalani usah ternak selama puluhan tahun itu menambahkan, secara umum penurunan harga kambing saat ini berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per ekor. Namun, untuk kambing pedaging dengan kondisi gemuk, harga cenderung masih stabil.

Kondisi tersebut membuat peternak harus lebih cermat dalam menekan biaya produksi, terutama pakan. Meski demikian, Ali mengakui bahwa efisiensi pakan tidak bisa dilakukan secara maksimal jika ingin menjaga kualitas ternak.

“Kalau hanya mengurangi porsi pakan, itu juga ada risikonya. Apalagi kalau ingin hasil yang bagus, pakan tambahan tetap diperlukan. Jadi memang harus pintar mencari strategi lain,” jelasnya.

Ali yang juga menjalankan usaha jual beli kambing dan daging mengaku sedikit terbantu karena dapat memantau perkembangan harga pasar setiap hari. Diversifikasi usaha menjadi salah satu cara untuk tetap bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu.

Ia menilai, turunnya harga kambing dipengaruhi oleh lemahnya daya beli masyarakat serta kondisi ekonomi yang belum stabil. Selain itu, kambing dengan kondisi kurus juga semakin sulit terserap pasar karena tidak memenuhi standar sebagai hewan potong.

“Semoga permintaan pasar bisa meningkat bulan ini, apalagi menjelang Hari Raya Iduladha, sehingga harga kambing bisa kembali naik,” harapnya. (fah)