Home HEADLINE Air Mata AMT Tuban Pecah, Aksi Mogok Berujung Buntu, Dua Rekan Tetap...

Air Mata AMT Tuban Pecah, Aksi Mogok Berujung Buntu, Dua Rekan Tetap Dipecat

13

kabartuban.com – Harapan ratusan Awak Mobil Tangki (AMT) di Fuel Terminal BBM Tuban kandas. Setelah dua hari mogok kerja massal yang sempat mengganggu distribusi bahan bakar minyak (BBM), keputusan perusahaan tetap tak berubah, dua pekerja yang di-PHK tidak bisa kembali bekerja.

Suasana haru menyelimuti lokasi aksi. Sejumlah AMT tak kuasa menahan air mata ketika hasil pertemuan dengan pihak perusahaan diumumkan. Upaya solidaritas yang mereka bangun sejak awal, berakhir tanpa hasil.

Anggota DPRD Tuban, Ketua Komisi II Fahmi Fikroni, bersama Kepala Desa Tasikharjo Damuri, sebelumnya telah turun tangan mencoba menjembatani aspirasi para pekerja. Keduanya mendatangi kantor Pertamina di Fuel Terminal Tuban dan menggelar pertemuan hampir dua jam. Namun, hasilnya di luar harapan.

“Dengan berat hati kami sampaikan, keputusan Pertamina sudah bulat. Dua pekerja tersebut tidak bisa lagi menjadi AMT,” ujar Fahmi di hadapan para pekerja.

Tak hanya itu, aksi mogok yang dilakukan juga dinilai sebagai pelanggaran oleh perusahaan. Para AMT yang tetap tidak bekerja terancam sanksi tegas hingga Surat Peringatan 3 (SP3), yang berujung pada pemutusan hubungan kerja.

“Mogok kerja itu boleh, tapi harus disampaikan satu Minggu sebelumnya,” ujarnya.

Ancaman tersebut membuat para pekerja dihadapkan pada pilihan sulit, melanjutkan perlawanan atau menyelamatkan nasib rekan-rekan lainnya.

Akhirnya, dua AMT yang di-PHK memilih mengalah. Mereka menerima keputusan tersebut demi mencegah dampak lebih luas bagi rekan-rekan mereka yang ikut mogok.

Menurut Fahmi, tuntutan para pekerja adalah dilakukannya ulang proses Berita Acara Wawancara (BAW) yang diduga berlangsung di bawah tekanan. Ia mengungkapkan adanya oknum yang melakukan intimidasi terhadap para pekerja saat proses tersebut berlangsung.

Fahmi menjelaskan, para pekerja awalnya menolak menandatangani BAW. Namun, mereka kemudian dibujuk dengan janji oleh oknum bahwa jika mengakui dan menandatangani dokumen tersebut, proses akan berjalan cepat dan mereka tidak akan diberhentikan.

“Awalnya mereka tidak mau menandatangani BAW. Tapi ada oknum yang mengarahkan agar mereka mengakui dan menandatangani, dengan janji prosesnya akan cepat dan tidak sampai di-PHK. Dan dia itu mau menata ibaratnya, tapi ternyata malah dijerumuskan (Niatnya seolah ingin membantu, tapi justru berujung menjebak, Red),” ujar Fahmi.

Namun, pihak perusahaan memiliki pandangan berbeda. Berdasarkan hasil evaluasi internal, dua pekerja tersebut dinilai melakukan pelanggaran serius berupa pencampuran bahan bakar.

“Dari pihak Pertamina, itu dianggap kesalahan fatal. Jadi mau tidak mau, mereka harus di-PHK,” jelas Fahmi.

Meski demikian, para pekerja membantah adanya unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut.

“Tadi mereka bilang kepada saya, mereka tidak ada unsur kesengajaan melakukan itu,”ucapanp fahmi

Di sisi lain, Damuri menegaskan bahwa pihaknya telah berupaya maksimal menyampaikan aspirasi pekerja. Ia juga mengingatkan bahwa Fuel Terminal Tuban merupakan objek vital nasional (Obvitnas) yang berkaitan langsung dengan distribusi energi.

“Kalau distribusi BBM terganggu, dampaknya bisa jadi isu nasional,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia berjanji akan membantu mencarikan pekerjaan lain bagi dua pekerja yang terdampak, meski bukan lagi di perusahaan yang sama.

Ketua Paguyuban AMT, Lumintu, menegaskan aksi mogok yang dilakukan murni bentuk solidaritas dan dorongan agar proses penanganan PHK dilakukan secara profesional.

“Kami tidak ada niatan menghambat distribusi. Ini bentuk kepedulian kami,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya terhadap penegakan aturan. Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan perusahaan tidak akan mentolerir pelanggaran dalam bentuk apapun.

“Tindakan tegas akan diberikan kepada pihak yang terbukti melanggar ketentuan,” tegasnya.

Pertamina juga memastikan distribusi BBM tetap berjalan dengan mengoptimalkan berbagai langkah strategis, termasuk penguatan stok, pengalihan suplai, hingga koordinasi dengan aparat keamanan.

Di tengah situasi tersebut, satu hal yang tersisa adalah luka kolektif para pekerja tentang solidaritas yang diuji, pilihan sulit yang harus diambil, dan kenyataan pahit yang tak bisa dihindari. (fah)