Kemarau Meluas, BPBD Tuban Tangani Krisis Air Bersih di 18 Desa

kabartuban.com – Kemarau kali ini tak sekadar membuat tanah di sejumlah wilayah Kabupaten Tuban mengering. Persediaan air bersih warga juga mulai menipis. Di tengah musim yang diperkirakan masih berlangsung hingga November, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban kini harus memperluas jangkauan distribusi air bersih.

Terbaru, 18 desa yang tersebar di sembilan kecamatan tercatat masuk dalam penanganan BPBD karena mengalami kondisi rawan air bersih. Jumlah tersebut bertambah dari pekan sebelumnya yang masih mencapai 15 desa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tuban, Sudarmaji, mengatakan Pasokan difokuskan pada sejumlah dusun atau wilayah yang memang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

“Sekarang kita dropping air untuk 15 desa. Tapi bukan berarti seluruh wilayah desa, hanya sebagian wilayah desa yang memang rawan air bersih,” kata Sudarmaji, Senin (7/9/2026).

Sembilan kecamatan yang masuk dalam data penanganan tersebut meliputi Grabagan, Parengan, Senori, Jatirogo, Bancar, Semanding, Montong, Bangilan, dan Soko.

Di tengah kebutuhan yang terus bergerak, BPBD tidak setiap hari mengirimkan air ke desa yang sama. Distribusi dilakukan dengan sistem jeda agar pasokan dapat dibagi ke wilayah lain yang juga membutuhkan.

“Tidak setiap hari. Kita jeda sehari karena harus berbagi dengan desa yang lain,” jelasnya.

Dalam sehari, BPBD Tuban mampu mengirim sekitar 4-5 tangki air. Setiap tangki melakukan dua rit pengiriman. Dengan kapasitas tangki yang bervariasi antara 5.000 hingga 7.000 liter, rata-rata satu rit membawa sekitar 6.000 liter air.

Dengan demikian, dalam sehari BPBD dapat mendistribusikan sekitar 60.000 liter air bersih dalam 10 rit.

Bantuan juga datang dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melalui kantor Bojonegoro. Dukungan tersebut rata-rata mencapai 2-4 rit per hari untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Sudarmaji menjelaskan, distribusi air dilakukan berdasarkan permintaan dari pemerintah desa. Pengajuan tersebut harus diketahui camat sebelum BPBD melakukan asesmen di lapangan.

“Berdasarkan permintaan dari kepala desa yang diketahui camat. Setelah ada surat, kita asesmen, setelah itu baru kita dropping,” ujarnya.

Persoalannya, musim kemarau tahun ini diperkirakan belum akan segera berakhir. Berdasarkan perkiraan BMKG Tuban yang diterima BPBD, kondisi kemarau diprediksi masih berlangsung hingga pertengahan sampai akhir November 2026.

Sudarmaji menyebut kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya bersiap menghadapi ancaman kekurangan air, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran.

“Karena kemarau 2026 ini lebih panjang dan kering dibanding tahun lalu, saya minta masyarakat lebih hemat memanfaatkan air bersih dan waspada terhadap kebakaran, baik kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (fah)

Banner

Berita Terbaru

Artikel Lainnya