kabartuban.com – Malam itu, Rabu (13/05/2026) suasana di ruas Jalan Letda Sucipto, Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, terasa berbeda. Di tengah lampu kendaraan yang hilir mudik dan suara mesin motor yang sesekali meraung, ratusan driver ojek online berdiri mematung di Jalan. Sebagian membawa bunga, lilin, sebagian lain menundukkan kepala sambil memanjatkan doa.
Mereka datang bukan untuk bekerja mencari penumpang. Mereka hadir menjadi simbol kehilangan rekanya, Muhammad Iqbal Firmansyah, driver ojol yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal yang dipicu adanya gundukan di badan jalan bekas galian pipa proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) yang diprakarsai PT Waskita Karya. Pada Selasa,(12/05/2026) dini hari
Aksi solidaritas yang digelar Rabu malam, bukan sekadar tabur bunga biasa. Di balik doa dan lilin duka, tersimpan kemarahan, kekecewaan, sekaligus tuntutan agar keselamatan pengguna jalan tidak lagi diabaikan dalam setiap pengerjaan proyek.
Koordinator aksi, Nanang Sasmito, menyebut kematian Iqbal menyisakan banyak pertanyaan. Menurutnya, kondisi jalan saat kejadian sangat membahayakan dan minim penanda keselamatan.
“Kalau menurut saya ini tidak logis disebut kecelakaan tunggal biasa. Kemarin jelas ada gundukan di lokasi. Bahkan sekarang saja sudah diratakan dan tulisan peringatannya tidak ada,” ujarnya di sela aksi.
Nanang mengaku para driver ojol merasa kehilangan mendalam atas meninggalnya Iqbal. Baginya, korban bukan sekadar sesama pengemudi, tetapi bagian dari keluarga besar komunitas jalanan yang setiap hari bertaruh nyawa di aspal.
“Yang paling penting malam ini kami ingin menunjukkan bahwa kami kehilangan teman kami sendiri. Kehilangan itu nyata,” katanya.
Dalam aksi itu, keluarga korban turut menyuarakan kekecewaan terhadap bentuk tanggung jawab yang sejauh ini diberikan pihak proyek. Musjinono, sepupu korban yang juga berprofesi sebagai driver ojol, menilai uang tali asih sebesar Rp20 juta yang diberikan kepada keluarga belum pantas jika dibandingkan dengan nyawa manusia yang hilang.
“Nyawa itu tidak bisa diganti uang. Mau siapa pun orangnya, enggak mungkin bisa setara dengan uang,” ucapnya dengan nada berat.
Ia mengatakan Iqbal merupakan tulang punggung keluarga. Ayah korban disebut sudah tidak mampu bekerja, sementara sang ibu hanya menjaga warung kecil. Dalam kesehariannya, Iqbal bekerja sebagai driver ojol sambil menjalani pekerjaan serabutan demi membantu ekonomi keluarga.
“Dia itu tulang punggung keluarga. Bapaknya sudah sakit dan tidak mampu bekerja. Ibunya jaga warung. Jadi dia ngojol sambil kerja serabutan,” ungkapnya.
Menurut Musjinono, keluarga hingga kini masih syok atas kehilangan tersebut. Namun demikian, komunitas ojol dan keluarga membuka kemungkinan membawa kasus itu ke ranah hukum apabila tidak ada tindak lanjut yang dianggap layak.
“Kalau memang tidak ada kelanjutan, kami siap lanjut ke kepolisian. Kami juga minta dukungan teman-teman komunitas untuk mengawal persoalan ini,” tegasnya.
Di sisi lain, salah satu perwakilan komunitas ojol yang ikut mendampingi keluarga, Hendra Waskita, mengakui pihak proyek telah datang ke rumah korban untuk meminta maaf dan memberikan santunan. Ia menyebut ada itikad baik yang diperlihatkan.
“Saya menyaksikan sendiri mereka datang, bersalaman, meminta maaf, dan mengakui ada kesalahan,” katanya.
Namun menurutnya, persoalan utama bukan hanya soal nominal santunan, melainkan bagaimana pihak terkait benar-benar hadir untuk memulihkan kondisi keluarga korban yang kini terpukul secara mental maupun ekonomi.
“Yang dibutuhkan keluarga bukan sekadar datang memberi uang. Yang dibutuhkan itu rasa lega, perhatian, dan pendampingan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi ibu korban yang disebut mengalami tekanan psikologis berat setelah kehilangan anaknya.
“Korban ini anak yang selama ini membantu keluarga. Jadi kehilangan itu sangat besar bagi mereka,” imbuhnya.
Aksi solidaritas itu berlangsung khidmat. Para driver ojol menyalakan lilin, menaburkan bunga di lokasi kecelakaan, lalu menggelar doa bersama untuk almarhum Iqbal. Sejumlah pengendara yang melintas tampak memperlambat laju kendaraan mereka ketika melihat barisan ojol memenuhi tepi jalan.
Meski berlangsung damai, pesan yang disampaikan para peserta aksi terdengar jelas, proyek pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat.
Para driver juga memberi sinyal bahwa aksi serupa kemungkinan akan terus dilakukan selama mereka merasa persoalan ini belum mendapatkan perhatian serius.
“Kami akan tetap ada kegiatan seperti ini karena kami benar-benar merasa kehilangan. Apalagi ini teman kami sendiri di kota kami sendiri,” kata Nanang.
Kasus meninggalnya Iqbal kini menjadi sorotan luas di Tuban. Peristiwa itu bukan hanya tentang satu kecelakaan lalu lintas, melainkan juga tentang kelalaian yang diduga lahir dari buruknya pengamanan proyek di ruang publik.
Di tengah derasnya pembangunan, para driver ojol berharap keselamatan pengguna jalan tidak lagi dianggap urusan sepele. Sebab bagi mereka, satu gundukan tanpa pengamanan bisa berarti hilangnya satu nyawa dan meninggalkan luka panjang bagi keluarga yang ditinggalkan. (fah)
