kabartuban.com – Kelangkaan solar subsidi kembali dikeluhkan para sopir angkutan barang di Kabupaten Tuban. Sejak akhir pekan lalu, antrean kendaraan mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), sehingga mengganggu aktivitas distribusi logistik maupun hasil pertanian.
Pantauan pada Senin (1/6/2026), antrean truk dan kendaraan pengangkut barang terlihat memenuhi sejumlah SPBU di wilayah Tuban. Bahkan di beberapa titik, antrean meluber hingga ke badan jalan dan memanjang ratusan meter.
Salah satu lokasi yang mengalami antrean panjang berada di SPBU Bektiharjo. Sopyan, sopir truk pengangkut jagung, mengaku harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan solar subsidi.
“Saya antre mulai pukul 07.00 WIB. Sekitar pukul 12.00 WIB baru bisa masuk area SPBU. Akibatnya pekerjaan jadi terlambat,” ujarnya.
Menurut Sopyan, kondisi tersebut sangat memberatkan para sopir yang bergantung pada solar subsidi untuk menjalankan aktivitas usaha mereka.
“Yang dirugikan masyarakat kecil. Mau mengangkut hasil panen jadi terhambat karena sulit mendapatkan solar,” katanya.
Antrean serupa juga terjadi di SPBU Bogorejo, Kecamatan Merakurak. Deretan kendaraan pikap dan truk terlihat mengular hingga mendekati Koramil Merakurak. Sementara di SPBU Gesing, antrean panjang juga terjadi sepanjang hari.
Darmin, sopir lainnya, mengatakan persoalan pasokan solar sudah dirasakan sejak Sabtu (30/5/2026). Menurutnya, sejumlah SPBU kerap kehabisan stok, sementara pasokan yang tersedia jumlahnya terbatas.
“Solar subsidi sulit dicari. Kalau solar non-subsidi memang tersedia, tetapi harganya terlalu mahal bagi kami. Ongkos angkut tidak sebanding dengan biaya operasional,” keluhnya.
Ia menambahkan, kelangkaan solar berdampak langsung terhadap produktivitas para sopir. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengangkut barang habis untuk mengantre di SPBU.
“Biasanya bisa dua kali perjalanan dalam sehari, sekarang sering hanya satu kali karena waktu habis untuk antre. Pendapatan tentu berkurang,” tambahnya.
Sementara itu, Pengawas SPBU Gesing, Teguh, membenarkan adanya antrean panjang yang terjadi sejak akhir Mei 2026. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan solar subsidi yang diterima SPBU.
“Sebelumnya kami mendapat kiriman sekitar 24 ton. Sekarang berkurang menjadi 16 ton yang dibagi dalam tiga shift penyaluran,” ujarnya.
Teguh menegaskan, pengurangan pasokan tersebut hanya terjadi pada solar subsidi, sementara distribusi jenis bahan bakar lainnya tetap berjalan normal.
Para sopir berharap pasokan solar subsidi segera kembali normal agar aktivitas distribusi barang dan hasil pertanian tidak semakin terganggu.
Hingga berita ini ditulis, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab berkurangnya pasokan solar subsidi yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Tuban. Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rehadi, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi awak media. (fah)
