Berwatu Lumpuhkan Aktivitas Tambang PT SG

394

kabartuban.com—Tanda-tanda bakal surutnya aksi massa di wilayah Ring I PT Semen Gresik, Tbk, (PT SG) tampaknya belum terlihat. Setelah serangkaian aksi unjuk rasa dilakukan warga Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, menyusul warga Dusun Koro, Desa Pongpongan, Kecamatan Merekurak berunjuk rasa terhadap pabrikan semen milik Pemerintah tersebut, Senin (21/5). “ Aksi ini merupakan kelanjutan aksi yang telah kami lakukan beberapa waktu lalu. Kalau PT SG masih belum merealisasikan tuntutan warga, aksi seperti ini akan terus kami lakukan,” kata Rustamuri, koordinator aksi.

Rustamuri menegaskan, kehadiran pabrikan semen ini secara nyata telah memberi penderitaan bagi warga sekitar. Lebih dari 500 Kepala Keluarga (KK) disinyalir telah kehilangan lahan garapannya lantaran digunakan PT SG untuk area cadangan bahan baku. Sementara sedikitnya 353 pemuda setempat juga tidak pasti masa depannya. Padahal janji pihak-pihak berkepentingan dahulu, hadirnya pabrik semen tersebut bakal membuka lapangan kerja baru yang lebih baik, sehingga ekonomi dan kesejahteraan warga desa itu pun menjadi lebih baik.

“ Tetapi semua hanya janji. Kenyataannya justu terbalik. Warga semakin miskin karena tidak lagi memiliki mata pencaharian pasti untuk membiayai hidup keluarganya. Anak-anak bahkan banyak yang putus sekolah dan terpaksa membantu orang tuanya bekerja,” tegas Rustamuri.

Karena itulah, lanjut Rustamuri, warga menuntut PT SG agar merealisasikan kesejahteraan seperti yang pernah dijanjikannya, saat BUMN penghasil semen ini hendak membangun pabrik, 25 tahun lalu. Warga meminta PT SG menunaikan tanggung jawabnya secara konsekwen terhadap lingkungan dengan melakukan pemberdayaan ekonomi , terutama terhadap warga miskin. Warga juga meminta PT SG member jaminan pendidikan terhada anak-anak di desa itu dengan memberikan beasiswa sebesar Rp 300 ribu/bulan/anak untuk usia SD, Rp 400 ribu/bulan/anak untuk usia SMP dan Rp 500 ribu/bulan/anak untuk usia SMA. Selain itu, PT SG juga harus memberi bersedia menyerap tenaga kerja setempat.

Aksi kali ini lumayan ramai. Sekitar 200-an warga ikut serta dalam aksi yang dinamai Barisan Warga Koro Bersatu ( Berwatu) itu. Aksi mereka pun tidak tanggung-tanggung. Aktivitas eksploitasi di lahan tambang PT SG yang ada di wilayah desa itu berhasil mereka lumpuhkan selama dua jam lebih. Bahkan warga melakukan sweeping dan memaksa seluruh pekerja tambang berhenti bekerja.

Aksi pendudukan tambang itu baru berakhir setelah perwakilan dari manajemen PT SG datang ke lokasi dan berbicara dengan warga. Namun perwakilan manajemen itu hanya bisa berjanji pihaknya bakal menyampaikan tuntutan warga ke Manajemen PT SG di Gresik. “ Kami tunggu janji PT SG. Batas waktunya seminggu. Kalau seminggu tidak ada realisasi, kami akan kembali unjuk rasa dengan massa yang lebih besar dan mungkin juga lebih berani dari aksi sekarang,” kata Rustamuri disambut pekikan setuju warga Berwatu lainnya

Terpisah, Kepala Divisi (Kadiv) Humas PT SG, Heri Subagyo, saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui adanya aksi warga Berwatu tersebut. Heri sendiri menyayangkan meletusnya aksi massa hingga melumpuhkan aktivitas eksploitasi dua jam lebih tersebut. Ia berjanji akan mengkaji lebih jauh masalah itu untuk mencari solusi terbaik. “Kami ingin win win solution. Saya harap ada komunikasi yang lebih baik antara SG dengan warga,” kata Heri Subagyo.

Disinggung mengenai tudingan warga terhadap PT SG yang dinilai telah mengabaikan warga sekitar, Heri Subagyo mengatakan, pihaknya selama ini telah melakukan berbagai upaya pendekatan untuk memberdayakan warga sekitar. Namun pihaknya tetap akan mendengarkan aspirasi dan tuntutan warga. “ Kalau warga minta kami lebih besar lagi memperhatikan warga miskin, ya, kami akan coba lakukan. Oleh karena itu kami perlu adanya dialog yang komunikatif, persuasif, agar semuanya masalah bisa clear tanpa ada pihak yang merasa dirugikan,” kata Heri Subagyo. (bek)