Cuaca Pukul Petani Garam

722
kabartuban.com – Nasib tak beruntung akibat cuaca juga menimpa petani garam. Sejumlah petani garam mengeluh lantaran tak bisa produksi akibat masih seringnya turun hujan sebulan terakhir. “ Seharusnya cuaca mulai panas. Tapi hujan masih sering turun terutama di wilayah selatan. Akibatnya sungai masih penuh air yang meluber ke tambak garam kami,” kata Kaswan, petani garam di Desa Peliwetan, Kecamatan Palang, Rabo (23/5).
Akibat masih tergenangnya lahan garam itu, petani garam praktis tak bisa beraktivitas. Mereka terpaksa kerja serabutan untuk bisa menutup kebutuhan keluarganya. Kaswan sendiri mengaku kadang ikut melaut mencari ikan. Tetapi pekerjaan alternatifnya itu juga sering terhenti karena laut juga masih tak bersahabat. Terlebih musim angin timur saat ini tengah berlangsung. Dengan ombak setinggi 3-4 meter, sangat tidak memungkinkan perahu-perahu kecil di bawah 10 GT berlayar.
Suprawi, pemilik lahan garam membenarkan bila banyak petani penggarap lahan garam alih profesi akibat mandegnya produksi. Menurut Suprawi, harusnya memasuki bulan April lalu aktivitas produksi sudah mulai dilakukan. Namun lantaran air laut terus pasang ditambah volume air sungai yang mengalir di sekitaran area lahan garam itu masih tinggi, aktivitas produksi tertunda. Hingga sekarang, lahan garam seluas 16 hektar yang ada di tempat itu masih tampak dipenuhi air.
Menurunnya produksi garam itu jelas mendongkrak harga garam. Saat ini menurut Suprawi, harga garam di tingkat petani garam Rp 550/kg. Musim produksi lalu, harga garam hanya sampai pada level Rp 210/Kg. “ Sayang, harga bagus ini tidak bisa dinikmati petani garam. Lha dipaksa bagaimanapun ya tetep nggak bisa nggarap, wong airnya masih terus datang begitu,” kata Suprawi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban sendiri telah menetapkan Desa Pliwetan sebagai sentra industri garam, bersamaan dengan Desa Cepokorejo, Desa Leran Wetan dan  Desa Ketambul, Kecamatan Palang, serta Desa Dasin dan Desa Tambakboyo, Kecamatan Tambakboyo. Total luas lahan produksi ditargetkan mencapai 258,9 hektar, sedang produksinya diharap mampu menembus 24.087 ton/tahun.

Menurut Anton Tri Laksono, Kepala Seksi Data dan Pelaporan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Tuban, potensi menjadi daerah penghasil garam bagi Tuban sangat besar. Bahkan bila dibanding Gresik, Tuban lebih berpeluang. Alasannya, ketersediaan lahan masih sangat cukup, sementara di Gresik lahan semakin menyusut seiring dengan perkembangan wilayah kota Surabaya. Ditambah lagi dengan kondisi pantai Tuban yang landai, sangat memudahkan aliran air laut ke daratan.

Hanya saja diakui, masih banyak kendala untuk peningkatan produktivitas petani garam di Tuban. Garam masih dipandang sebagai komoditi yang tidak banyak menghasilkan. Padahal peluang pasar masih terbuka lebar. “SDM petani juga jadi faktor penghambat. Garam lokal seringkali tidak terserap pasar lantaran mutunya dinilai masih di bawah standart. Ini jadi PR utama kami”, kata Anton Tri Laksono.

Memang sangat ironis, tambahnya, bila negara beriklim tropis dengan luas laut lebih besar dibanding negara lain, justru menjadi pengimpor garam. Ironisnya lagi, negara-negara pemasok garam tersebut justru negara yang secara geografis kurang cocok untuk produksi garam. “80 persen garam impor garam didatangkan dari Australia, 15 persen dari India dan China 3 persen”, jelas Anton Tri Laksono. (bek)