Di Tengah Persaingan Transportasi Online, Dokar di Tuban Tetap Eksis

61
Salah satu dokar yang ada di pasar Bongkaran Tuban. Foto

Kabartuban.com – Dokar / andong merupakan alat transportasi tradisional andalan pada zamannya, dan ternyata hingga saat ini masih bertahan di tengah maraknya kendaraan yang hadir pada zaman sekarang. Masyarakat terutama di Kabupaten Tuban ternyata masih menggunakan alat transportasi yang ditarik dengan kuda ini.

Menurut Sumarni (50) salah satu warga Penambangan Kabupaten Tuban mengaku, dirinya senang naik dokar karena hal ini sangat membantu dirinya ketika selesai belanja ke pasar. Sebab ia mengaku kurang menyukai transportasi seperti ojek online dan semacamnya.

“Saya lebih senang naik dokar saat pulang dari pasar karena lebih nyaman, lagian saya juga nggak bisa pakai aplikasi aplikasi itu. Harapannya sarana transportasi ini terus beroperasi walaupun di zaman sekarang banyak transportasi yang bagus-bagus,”ucapnya sambil tertawa.

Ia juga menambahkan,Dokar harus tetap dilestarikan karena tidak menimbulkan polusi udara. Sedangkan untuk Kusir, yakni sebagai pengemudi dokar, harus menjaga kebersihan tempat mangkal agar tidak kotor oleh makanan maupun kotoran kuda.

“Kalau ongkosnya memang lebih mahal dibanding angkutan umum dan sarana transportasi lainnya. Tapi saya jadi pelanggan dokar lantaran ingin sarana transportasi ini tidak punah,” ucapnya.

Senada dengan Sukandi (67) yang menggeluti profesi sebagai kusir delman sudah 45 tahun menurutnya walaupun sudah tidak seramai dulu, masyarakat tetap menggunakan moda transportasi tradisional tersebut,”karena orang-orang banyak yang sudah punya kendaraan masing-masing  jadi memang nggak ramai tapi alhamdulilah,” tuturnya

Ayah dari 3 orang anak ini mengaku, akan terus menjalani profesi tersebut, selain karena sudah punya pelanggan di pasar Sukandi tetap ingin melestarikan transportasi tradisional ini. Sukandi mulai menunggu para penumpangnya pada jam 08.00 pagi hingga 12.00 siang.

Ia mengaku, narik dokar seperti juga untung-untungan, kadang ramai kadang pula sepi. Kalau sepi pelanggan sehari hanya bisa menarik satu atau dua penumpang  saja,meski begitu Sukandi yakin bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan, sehingga usaha yang ia geluti sejak 45 tahun tersebut tetap bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya hingga sekarang. “Kusir dokar menjadi pekerjaan pokok saya sejak dulu . Alhamdulilah, kalau kita mau berusaha, tetap saja ada rejeki,” tutupnya.Hin