kabartuban.com – Tingginya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Tuban saat proses persalinan mengalami penurunan, hal tersebut menjadi bukti naik atau meningkatnya kualitas kesehatan ibu di daerah ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Endah Nurul Kumajati saat ditemui kabartuban.com menyampaikan, kualitas kesehatan yang baik mampu mencegah kematian ibu saat melahirkan. Meski gangguan kesehatan itu terkadang muncul menjelang akhir kehamilan, seperti Eklamsia.
“Eklamsia atau tekanan darah yang tiba-tiba tinggi, ini masalah serius pada masa kehamilan akhir,” kata Endah Nurul Kumajati (7/11/2017).
Dari data yang ada, pada tahun 2017 sebanyak 9 orang ibu dinyatakan meninggal saat proses melahirkan, angka ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang berJumlah 11 orang.
Sementara itu jumlah bayi yang meninggal juga menunjukan penurunan signifikan tercatat mulai tahun 2012 angka bayi meninggal baru lahir berjumlah 573, tahun 2013 turun menjadi 539, ditahun 2014 kembali menurun menjadi 512, ditahun 2015 sebanyak 419 sementara ditahun 2016 turun drastis menjadi 326 bayi yang meninggal.
“Untuk tahun ini juga menurun menjadi 94 bayi yang meninggal pasca dilahirkan, kami berharap ini tidak menambah lagi angkanya,” harap Plt Kadinkes ini.
Adapun faktor utama kematian bayi disebabkan Berat Badan Rendah (BBR), karena terlalu kecil ini organ tubuh dalam belum bekerja secara optimal. Disamping kelahiran sebelum waktunya atau prematur.
“Sebagai upaya terus menekan angka kematian ibu dan bayi, kami punya aplikasi jari emas, yang terintregrasi dengan bidan desa hingga rumah sakit. Kalau bidan desa punya masalah bisa dikonsultasikan langsung dengan dokter dan dokter sudah bisa mengganalisis, kalau dirujuk dokter sudah langsung melakukan tindakan,” pungkasnya. (Luk)
