kabartuban.com– Kabupaten Tuban menghadapi ancaman kekeringan yang kian serius. Stasiun Meteorologi BMKG Kelas III Tuban mencatat, sebagian wilayah Tuban telah mengalami kondisi tanpa hujan selama lebih dari dua bulan. Situasi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama di kawasan hutan jati dan lahan pertanian yang mulai mengering.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Siaga El Nino: Informasi BMKG untuk Antisipasi Kekeringan dan Karhutla” yang digelar Stasiun Meteorologi BMKG Kelas III Tuban.
Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, pengelola kawasan hutan, hingga perwakilan sektor industri. Pembahasan difokuskan pada kondisi iklim terkini serta langkah bersama untuk menekan dampak kekeringan dan potensi Karhutla.
Kepala Stasiun BMKG Kelas III Tuban, Muchammad Nur, mengatakan kondisi iklim saat ini perlu diwaspadai karena minimnya curah hujan membuat lahan semakin kering dan mudah terbakar.
Baca juga: Cuaca Panas Melanda Tuban, Suhu Siang hari Capai 35 Derajat
“Kalau ada tetangganya atau mungkin petani yang mau membakar lahan, jangan dibakar dulu. Percuma saja karena tidak akan ada hujan untuk waktu dekat ini, belum bisa dipakai untuk tanam,” tegas Nur.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap lahan pertanian. Kawasan hutan jati yang cukup luas di Tuban juga menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena material organik yang mengering dapat menjadi bahan bakar ketika terjadi kebakaran.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, BMKG turut memperkenalkan pemanfaatan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) yang diintegrasikan dengan pemantauan titik panas (hotspot).
Teknologi tersebut dapat membantu petugas memantau indikasi potensi Karhutla secara lebih cepat, termasuk melihat kondisi bahan bakar organik di permukaan tanah. Informasi itu diharapkan menjadi dasar bagi instansi terkait untuk mengambil langkah pencegahan sebelum kebakaran meluas.
Nur mengatakan masyarakat juga perlu ikut berperan dalam mengurangi risiko kebakaran. Salah satunya dengan menunda aktivitas pembakaran lahan hingga kondisi cuaca kembali mendukung.
Sementara itu, BMKG memprediksi hujan mulai berpeluang turun pada November mendatang. Namun, intensitasnya masih terbatas sehingga belum serta-merta menandai masuknya musim hujan secara penuh.
“Musim hujan secara teknis diprediksi baru mulai pada Dasarian I dan II Desember. Sedangkan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari,” jelas Nur.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tuban, Sudarmaji, menilai informasi tersebut menjadi bekal penting bagi pemerintah daerah untuk menyusun langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan dan Karhutla.
Baca juga: Prediksi Cuaca Tuban Selama Tujuh Hari ke Depan
Menurutnya, ancaman musim kemarau yang panjang dan kering membutuhkan penanganan lintas sektor. Tidak cukup hanya mengandalkan satu instansi, tetapi harus melibatkan seluruh pihak yang berkaitan dengan kawasan hutan maupun masyarakat.
“Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat berharga buat kami, terutama adalah mengantisipasi musim kemarau yang nantinya diprediksi cukup panjang dan kering. Dan hari ini dibahas tentang bagaimana cara antisipasinya,” ujar Sudarmaji.
Ia menambahkan, hasil FGD tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui penguatan koordinasi dengan instansi pengelola kawasan hutan di Tuban.
BPBD juga berencana membentuk tim terpadu untuk memperkuat upaya mitigasi dan pencegahan Karhutla. Langkah tersebut dinilai penting agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sejak dini, sebelum berubah menjadi bencana yang lebih besar. (fah)
