Industri Meuble Tuban masih optimis hadapi pasar

485
masbro
Roni saat melakukan proses kreatifnya

kabartuban.com – Di tengah ekspansi produk ke meuble dari sejumlah sentra industri meuble dari Jawa Tengah dan Pasuruan, industri meuble di Tuban masih cukup produktif dan tidak mau kalah bersaing. Di sejumlah daerah di Tuban, para produsen meuble masih cukup produktif membuat berbagai macam produk, mulai dari kursi tamu, almari, pintu, kusen, dan sejumlah jenis barang yang dibuat dengan design yang up to date.

Salah satunya adalah usaha produksi meuble yang dimiliki oleh pengusaha muda di kampung Merik, Kelurahan Sidorejo. Berbekal keterampilan yang diwariskan oleh orang tuanya, Ilham Sah Roni (Roni) dengan tekun menjalani usahanya.

Kepada wartawan media ini, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Roni sudah belajar membuat berbagai keterampilan dengan bahan kayu. Dengan banyaknya tukang dan para pekerja meuble di rumahnya, Roni semakin semangat untuk membuat kursi, almari, rak dapur, tempat tidur, dan berbagai produk kayu yang lain.

Saat ditemui di tempat usahanya di Jl. Merik, Gg. Sidopati Kelurahan Sidorejo Tuban, Roni mengatakan, “Usaha ini memang tinggal meneruskan dari bapak. Bapak merintis usaha ini sejak beliau masih bujang. Alhamdulillah sampai sekarang ini, omset kami masih cukup lumayan, dan order juga nggak pernah sepi, selalu ada saja,” tuturnya, Selasa (10/2/2015).

Ditanya terkait produk dari Jepara, Blora, maupun Pasuruan yang saat ini membanjiri pasar meuble di Tuban, Roni mengatakan, “Kita santai aja mas, rejeki sudah diatur sama Gusti Allah. Kalau Allah menghendaki, saya yakin suatu saat nanti, usaha saya ini akan menjadi besar dan sangat besar,” ucapnya optimis sambil tersenyum.

Lebih lanjut Roni mengatakan, “Memang iya sih, produk dari luar yang kini membanjiri pasar meuble di Tuban itu harganya relatif murah. Bahkan banyak pedagang meuble dadakan yang menjual meja kursi di pinggir jalan. Selain murah, mereka juga menawarkan design dan finishing yang “cukup bagus kelihatannya”. Tapi saya yakin, orang yang mengerti dan mengutamakan kwalitas, pasti akan memilih produk buatan saya,” ujar sarjana muda jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNIROW ini.

Dari sejumlah informasi yang dihimpun wartawan media ini, tidak semua masyarakat mudah tergoda dengan produk harga murah. Di Tuban, masih banyak masyarakat kelas menengah ke atas yang selalu memilih produk yang bagus dan berkwalitas.

Roni yang kini sudah memimpin beberapa pekerja di perusahaan kecilnya, masih senantiasa mendapatkan bimbingan dari ayahnya, yang juga pendiri usaha tersebut. “Usaha ini dulu nggak ada namanya, orang hanya mengenal bapak saya. Oleh karena sekarang ini untuk bisnis dibutuhkan merk dagang, maka usaha ini saya beri nama dengan nama ayah saya, yaitu UD. Sahlan,” imbuhnya.

Ditanya tentang produk apa saja yang bisa dibuatnya, anak ketiga dari empat bersaudara itu mengatakan, “Insya Allah aku bisa buat apa saja, asal bahan dasarnya adalah kayu, khususnya kayu jati. Soal harga, rego nggowo rupo (harga sesuai kwalitas) lah mas.”

Selain itu, Roni juga mengaku bahwa dirinya maupun ayahnya belum pernah menggunakan uang pinjaman dari bank atau bantuan dari mana pun sebagai modal usahanya. “Alhamdulillah, sampai saat ini aku atau pun bapak, belum pernah pinjam duit bank untuk modal usaha ini. Apalagi yang sekarang sedang banyak dipakai oleh beberapa pengusaha kecil menengah, dana CSR dari perusahaan itu, belum pernah sama sekali.”

Lebih lanjut Roni mengatakan, “Kami ini prinsipnya apa adanya mas, dalam bekerja juga pelan – pelan yang penting lancar. Belum kepikiran untuk pakai uang bank dan dana – dana kayak gitu. Kita kumpulkan uang sedikit demi sedikit dan alhamdulillah sampai sekarang masih cukup untuk modal dan muter,” pungkasnya. (riz/im)