Home HEADLINE Kejar Deadline Juni, Proyek Sekolah Rakyat Tuban Genjot Tenaga dan Jam Kerja

Kejar Deadline Juni, Proyek Sekolah Rakyat Tuban Genjot Tenaga dan Jam Kerja

5

kabartuban.com – Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Tuban terus menunjukkan percepatan signifikan menjelang tenggat penyelesaian. Hingga pertengahan Mei 2026, progres proyek telah menembus angka 51 persen, dengan berbagai strategi percepatan mulai diterapkan di lapangan.

Upaya akselerasi dilakukan secara masif, mulai dari penambahan tenaga kerja hingga pengaturan ulang sistem kerja menjadi tiga shift. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh tahapan konstruksi berjalan sesuai target waktu yang telah ditetapkan.

Koordinator Kepala Lapangan sekaligus Koordinator Wilayah Tuban, Agus Saputra, menegaskan bahwa strategi percepatan dinilai cukup efektif untuk mengejar deadline proyek.

“Target penyelesaian dinilai realistis dengan melakukan percepatan menambah tenaga kerja, pendatangan material, serta menambah shift kerja menjadi 3 shift agar terselesaikan tepat waktu,” ujarnya.

Sejumlah pekerjaan dasar telah rampung, seperti striping lahan, timbunan kawasan, pagar kawasan, hingga struktur pondasi dan pembangunan ground water tank (GWT). Bahkan, penataan area lapangan sepak bola juga mulai terlihat dengan penanaman rumput.

Namun, pekerjaan belum sepenuhnya usai. Saat ini fokus pembangunan diarahkan pada penyelesaian infrastruktur pendukung, seperti jalan kawasan, jogging track, lapangan basket, serta struktur bangunan lantai dua, termasuk ring balok dan penutup atap.

Selain itu, pekerjaan arsitektur dan instalasi mekanikal, elektrikal, serta plumbing (MEP) juga menjadi prioritas dalam tahap akhir konstruksi.

“Pekerjaan yang sedang dikebut saat ini penutup atap, arsitektur dan MEP setiap bangunan,” kata Agus.

Demi menjaga ritme percepatan, jumlah tenaga kerja yang terlibat terus ditingkatkan. Hingga 14 Mei 2026, proyek ini telah melibatkan sekitar 807 pekerja, dengan 26 persen di antaranya merupakan warga lokal Tuban. Jumlah tersebut ditargetkan bertambah hingga mencapai 1.200 orang.

Sistem kerja tiga shift pun diberlakukan untuk memaksimalkan waktu pengerjaan, yakni pagi, siang hingga malam hari.

“Penambahan tenaga kerja dan jam kerja dilakukan agar seluruh pekerjaan konstruksi bisa selesai sesuai jadwal kontrak,” benernya.

Di balik percepatan tersebut, sejumlah tantangan juga ikut muncul. Menjaga kualitas hasil pekerjaan menjadi perhatian utama di tengah tekanan waktu yang ketat.

Selain itu, penerapan sistem kerja bergilir meningkatkan risiko kelelahan pekerja, sehingga aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi fokus penting. Pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian vitamin, serta aktivitas olahraga ringan sebelum bekerja dilakukan untuk meminimalisir potensi kecelakaan.

Tantangan lain juga datang dari sisi teknis, seperti kelancaran distribusi material, koordinasi antar tim di lapangan, hingga proses persetujuan material dan perubahan desain yang harus berjalan cepat dan tepat.

Di sisi lain, komunikasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait terus dijaga agar proses pembangunan tetap berjalan kondusif dan mendapat dukungan lingkungan sekitar.

Secara konsep, Sekolah Rakyat Tuban dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu dengan fasilitas lengkap, mulai dari ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, hingga sarana olahraga dan fasilitas pendukung lainnya.

Kawasan ini juga mengusung konsep asrama sebagai salah satu keunggulan utama, guna menciptakan sistem pendidikan yang lebih terintegrasi.

“Asrama siswa akan dipisahkan antara putra dan putri untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Setiap asrama dilengkapi kamar luas, toilet dan kamar mandi bersih, hingga ruang laundry,” imbuhnya.

Pendampingan siswa akan dilakukan secara intensif melalui wali asuh yang tinggal di lingkungan asrama. Selain itu, siswa juga akan dibiasakan mandiri melalui aktivitas sehari-hari.

Konsep ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang optimal, khususnya bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

“Sesuai kontrak, pembangunan Sekolah Rakyat Tuban ditargetkan selesai pada 20 Juni 2026. Setelah itu, fasilitas pendidikan tersebut diproyeksikan mulai digunakan saat tahun ajaran baru pada Juli 2026,” jelasnya.

Sebagai bagian dari proyek Sekolah Rakyat Jawa Timur 1 yang mencakup lima wilayah, pembangunan ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 1,1 triliun. (ril)