kabartuban.com – Tekanan terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tuban kian berat. Di tengah kelangkaan LPG 3 kilogram dan melonjaknya harga plastik, para pedagang kecil terpaksa memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Kondisi ini bahkan membuat sebagian pedagang memilih mengurangi porsi dagangan, hingga menutup lapak sementara waktu karena tidak mendapatkan tabung gas LPG.
Su’ud, pedagang batagor di kawasan Jalan Kalijogo, depan GOR Tuban, mengaku situasi saat ini sangat memberatkan. Ia menyebut, sejumlah pedagang di lokasi tersebut sudah ada yang berhenti berjualan untuk sementara.
“Selain harga plastik yang semakin mahal, ada juga pedagang di sini yang terpaksa berhenti jualan sementara karena tidak mendapatkan tabung gas LPG.” ujarnya.
Pria yang telah berjualan sejak 2010 itu mengungkapkan, kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik dan minyak goreng, ditambah sulitnya mendapatkan LPG 3 kilogram, memaksanya untuk mengurangi porsi jualannya.
“Untung sedikit tidak apa-apa, yang penting masih bisa jualan besok dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata harga LPG yang mahal, melainkan ketersediaannya yang sulit didapat di pasaran.
“Mahal tidak apa-apa, yang penting mudah didapat. Ini mencari satu tabung saja sulit. Kadang adonan sudah siap, tapi gasnya belum ada, itu yang bikin bingung,” keluhnya.
Dengan kondisi yang serba tidak menentu ini, para pelaku UMKM berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan pasokan dan harga kebutuhan pokok, khususnya LPG subsidi.
Mereka berharap situasi segera kembali normal agar dapat berjualan dengan tenang tanpa dihantui kekhawatiran akan kelangkaan bahan baku dan operasional. (fah)
