Pro Kontra Makam Sunan Ngudung

4593

kabartuban.com – Tepatnya di Desa Wadung Kecamatan Soko Kabupaten Tuban. Di sanalah terletak situs makam yang sedang menjadi pro – kontra warga setempat. Keberadaan makam tersebut telah banyak dikeramatkan. Warga setempat menyebutnya “Sunan Ngudung”.

Nurul salah satu warga desa menceritakan, “Konon, ada orang yang mengaku mempunyai sebuah buku, dimana di dalamnya menerangkan tentang keberadaan Sunan Ngudung di lokasi tersebut. Seperti disampaikan kepada warga setempat, bahwa di dalam buku tersebut menerangkan bahwa di Kabupaten Tuban ada makam Sunan Ngudung yang terletak di Desa Wadung. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung merupakan ayahanda dari Sunan Kudus.

Kemudian berdasar keterangan yang ada di dalam buku tersebut, maka ditentukanlah satu titik lokasi, kemudian digali dan ditemukan tumpukan batu panjang. Temuan tersebut kemudian disebut sebagai ciri – ciri yang sesuai dengan keterangan yang ada di dalam buku. Temuan tersebut kemudian disimpulkan oleh satu kelompok tertentu, dan mengklaim kebenaran lokasi tersebut sebagai makam Sunan Ngudung.

Pro – kontra terjadi ketika klaim tersebut tidak bisa dibuktikan dengan valid dan wujud buku yang dimaksudkan juga tidak jelas kebenarannya. Parahnya lagi, penetapan lokasi tersebut sebagai makam Sunan Ngudung tanpa sepengetahuan Kepala Desa setempat”.

Kepada kabartuban.com Nurul mengatakan, “ini bahaya mas, iya kalau itu benar, kalau tidak kan malah menyesatkan. Sekarang saja banyak orang berziarah ke tempat itu, bahkan daerah lain. Banyak yang maksud dan tujuannya sudah aneh – aneh, tidak seperti  lazimnya ziarah di makam Aulia”.

Dari Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Soko, Kyai Ali mengatakan, “Abah saya dulu seringkali menceritakan makam – makam wali yang ada di Kecamatan Soko, seperti makam Mbah Abdurrahman Karang Ali, Mbah Abdurrahim Drigu, dan Mbah Nanggul. Tapi mengenai Sunan Ngudung yang terletak di desa Wadung, sepertinya Abah tidak pernah cerita”.

Lebih lanjut Kyai Ali mengatakan, Terkait dengan makam tersebut harus diluruskan kebenarannya, karena hal tersebut menyangkut Tauhid. Kita jangan gegabah menetapkan sesuatu”.

Dari warga yang pro-kontra memberikan pernyataan yang berbeda ;

Kelompok warga yang Pro mengatakan, “Ya sudahlah biarkan saja, sejak adanya makam ini saya menanam padi maupun jagung tambah subur. Saya yakin ini benar, karena silsilah dan keterangannya telah tercatat dalam sebuah buku sejarah”.

Kelompok warga yang Kontra mengatakan, “Kami bukannya tidak senang dengan adanya penemuan sebuah makam sunan di desa kami, justru kami merasa bangga dan sangat bersyukur jika itu bisa di pertanggungjawabkan kebenarannya, karena dengan adanya sebuah makam Aulia, insyallah bisa jadi sarana untuk dakwah kususnya di desa setempat”.

Pro-kontra tentang keberadaan makam ini belum berujung pada sebuah kesimpulan, karena pihak yang yakin tentang keberadaan makam tersebut belum mampu memberikan bukti – bukti secara ilmiah, dan lagi, buku yang disebut – sebut sebagai petunjuk keberadaan makam tersebut belum pernah ditunjukan kepada pihak yang kontra. (waf/rul)