Tirakatan Kemerdekaan, Mulai Tahlilan Hingga Dangdutan

716
tirakatan17
Tirakatan kemerdekaan dengan tasyakuran di Kelurahan Sidorejo Tuban

kabartuban.com – Tradisi tirakatan kemerdekaan, setiap menjelang puncak hari kemerdekaan Republik Indonesia, masih berlangsung di banyak kampung yang ada di kota Tuban. Pada malam peringatan kali ini, Minggu (16/8/2015) malam, banyak perkampungan di kota Tuban yang mengadakan tradisi tersebut dengan berbagai kegiatan.

Berdasarkan pantauan wartawan media ini, sebagian dari mereka mengadakan tahlilan dan doa bersama dengan masyarakat di lingkungan setempat, dan sebagian kampung lain memilih merayakan malam kemerdekaan ini dengan berlagu, hingga berjoget dangdut ria.

Kegiatan doa bersama dan tahlilan terlihat digelar di salah satu Rukun Tetangga (RT) yang ada di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban. Seluruh warga dalam lingkup RT tersebut berkumpul di lapangan bulu tangkis setempat, dan menggelar acara tahlilan dilanjutkan dia bersama.

Sucipto, Ketua RT II RW III Kelurahan Sidorejo Tuban mengatakan, “Malam ini kita mendoakan arwah para pahlawan yang telah mendahuli kita. Semoga mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah,” tuturnya.

Sucipto berharap, kemerdekaan Indonesia yang sudah mencapai tahun ke 70 puluh ini dapat menjadi titik terang untuk bangsa, agar bangsa ini dapat terus menjadi baik dan lebih baik.

Sementara itu, salah satu titik di Jl. Pramuka nampak terdengar hingar bingar warga yang bernyanyi diiringi seorang pemain keyboard. Bendera merah putih yang berkibar di sekitar lokasi “mini orkestra” tersebut menunjukan riang gembira masyarakat menyambut HUT RI ke 70 tahun ini.

Setiap perkampungan punya kegiatan sendiri dengan berbagai macam. Dangdutan juga banyak digelar di sejumlah titik di Tuban.

Salah seorang warga Tuban nampaknya gerah dengan hingar bingar dangdut dan orkesan di malam kemerdekaan ini. Dalam akun facebooknya yang diberi nama Bekti Sudra Atmaja, menuliskan, “Lha iyo, jare tirakatan malem Proklamasi, kok malah nyetel Dangdut Koplo banter2an ambek mendem. Ndake, Pak Pulisi, Pak Tentara, lha dibenakno wong2 kampung kuwi. Ben ra keblanjur dadi budaya. Wis pelajaran sejarah ning sekolahan dikepras, malah moment2 penting disleotno maknane. Suwe2 ra ruh mbah buyute sing nglairo biyen sopo tenan kok anak2e awak dewe nek ngene carane dijarno ae.” tulisnya.

Tulisan status dalam bahasa jawa ngoko tersebut artinya kurang lebih, “Lha iya, katanya tirakatan malam Proklamasi, kok malah memperdengarkan lagu Dangdut Koplo keras – keras dengan mabuk. Cobalah, Pak Polisi, Pak Tentara, lha dibenarkan orang – orang kampung itu, biar tidak terlanjur menjadi budaya. Udah pelajaran sejarah di sekolah dipangkas, malah moment – moment penting disalah artikan. Lama – lama tidak tahu kakek buyutnya yang melahirkannya dulu siapa kok, anak – anak kita, kalau begini caranya dibiarkan saja.”

Hingga larut malam, sejumlah warga masih tampak berkerumun di beberapa gang kampung. Ada yang bermain catur, dan ada pula yang sekedar ngobrol dengan sesama warga setempat. (im)