kabartuban.com – Setelah semalaman membuat cemas keluarga dan warga pesisir, dua nelayan asal Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, akhirnya kembali menginjak daratan dengan selamat. Dimas Muhammad Saputra dan Agus Slamet, yang sebelumnya dilaporkan hilang saat melaut, berhasil diselamatkan melalui upaya dramatis tim gabungan di tengah cuaca laut yang buruk.
Kedua nelayan tersebut diketahui berangkat melaut pada Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Namun hingga sore hari, keduanya tak kunjung pulang dan tak bisa dihubungi. Kekhawatiran pun memuncak ketika keluarga melaporkan kondisi tersebut kepada Rukun Nelayan Sidomulyo.
Ketua Rukun Nelayan Sidomulyo, Ahmad Khusnul Abidin, mengatakan laporan dari keluarga diterima sekitar pukul 15.00 WIB. Sejak saat itu, pencarian langsung dilakukan secara swadaya oleh warga nelayan sembari berkoordinasi dengan berbagai pihak.
“Begitu keluarga menghubungi kami, kami langsung bergerak. Melalui LEO Anggota kami bersama warga berusaha mencari informasi posisi terakhir korban, sekaligus berkoordinasi dengan BPBD dan kru kapal tanker Succes Challenger yang melintas di sekitar lokasi,” ujar Ahmad saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1/2026).
Upaya tersebut membuahkan hasil. Posisi kedua nelayan akhirnya terdeteksi berada di sekitar kapal tanker. Namun kondisi laut yang tidak bersahabat membuat proses evakuasi belum bisa segera dilakukan.
“Korban ditemukan masih terombang-ambing di laut di sekitar kapal tanker. Sayangnya, cuaca saat itu cukup buruk sehingga penyelamatan belum memungkinkan,” jelas Ahmad, yang juga Ketua Komunitas Peduli Nelayan Nusantara (KOPENN).
Meski demikian, kru kapal tanker tetap melakukan pemantauan ketat sepanjang malam. Hingga akhirnya, pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, cuaca mulai memungkinkan dan kedua nelayan berhasil dievakuasi dengan selamat.
Setelah dijemput, perahu milik korban kemudian ditarik menggunakan kapal nelayan lainnya menuju daratan. Kepulangan Dimas dan Agus pada sore hari disambut tangis bahagia keluarga dan warga sekitar. Raut lega dan syukur tampak jelas saat keduanya menginjakkan kaki di daratan setelah berjam-jam berada di laut.
Sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan, keluarga menggelar prosesi sederhana dengan memandikan keduanya menggunakan air kembang.
Peristiwa ini pun menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para nelayan dalam mencari nafkah di tengah laut, sekaligus menggambarkan kuatnya ikatan emosional keluarga yang menanti mereka pulang dengan selamat. Selain itu peristiwa ini menjadi bukti kuatnya solidaritas antar nelayan serta pentingnya kolaborasi cepat antara masyarakat, relawan, dan instansi terkait dalam situasi darurat di laut. (fah)
