kabartuban.com – Riuh tabuhan dan gemerlap lampion mewarnai perayaan Tahun Baru Imlek di Klenteng Kwan Sing Bio, Kabupaten Tuban, Minggu (22/2/2026). Ribuan warga memadati halaman dalam kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) itu sejak pagi hari. Namun, di balik suasana meriah tersebut, bara konflik pengelolaan kembali menyala.
Beberapa jam setelah pesta rakyat berakhir, area kompleks klenteng kembali disegel oleh kubu Go Tjong Ping. Aksi itu menjadi lanjutan dari polemik panjang yang membayangi klenteng yang dikenal sebagai salah satu terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Tanda-tanda gesekan sebenarnya sudah terlihat sejak pagi, sebelum acara dimulai. Kubu Go Tjong Ping, yang mengklaim sebagai pimpinan terbaru TITD Kwan Sing Bio, berhadapan dengan pihak pengelola dari Surabaya yang disebut tidak memberikan izin kegiatan.
Suasana sempat memanas di pintu masuk kompleks. Adu argumen tak terhindarkan. Namun derasnya arus umat dan pengunjung yang terus berdatangan membuat perayaan tetap digelar. Acara akhirnya dipusatkan di halaman dalam klenteng dan berlangsung meriah hingga sore hari.
Ketegangan kembali mencuat setelah kegiatan selesai. Kubu Go Tjong Ping melakukan penyegelan sejumlah titiik di kompleks klenteng.
Go Tjong Ping secara terbuka menyebut CEO PT Kapal Api Global, Sudomo Margonoto, sebagai pihak yang dinilai paling bertanggung jawab atas polemik tersebut.
“Pengelolaan Surabaya sudah selesai kontraknya dan harus dikembalikan ke umat Tuban. Kuncinya ada di Pak Sudomo Margonoto. Kalau beliau ikhlas mengembalikan sesuai perjanjian, selesai. Tidak akan ada keributan seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, penolakan pengembalian aset menjadi pemicu utama penyegelan. Ia juga menegaskan bahwa sejumlah orang yang bernama Suyanto dan Erna yang masih berada di lokasi hanyalah karyawan dan tidak memiliki hak atas bangunan tersebut.
“Seharusnya sudah selesai dan pulang, karena ini milik umat, tapi kenyataannya nggak mau keluar” tegasnya.
Go Tjong Ping menambahkan, penyegelan akan terus dilakukan hingga pengembalian pengelolaan benar-benar tuntas.
“Malah pak sudomo membawa biro keamanan, seharusnya itu tidak perlu, malah mimicu konflik,”
Hingga berita ini diturunkan, Sudomo Margonoto belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan tersebut.
Konflik yang kembali mencuat ini menambah panjang daftar dinamika internal pengelolaan klenteng bersejarah tersebut. Di tengah semangat kebersamaan dan harapan baru yang identik dengan perayaan Imlek, sengketa kepengurusan justru kembali menorehkan babak baru yang belum jelas ujungnya. (fah)
