Menu Ramadan, SDN Rengel Menerima MBG Susu Kedelai Basi

kabartuban.com – Susu kedelai basi menjadi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan ke siswa-siswi SDN Rengel 1 di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Sekolah tersebut menerima paket MBG dari SPPG Baktya Graha pada hari Kamis 26 Februari 20206 kemarin.

Seorang siswa yang enggan disebutkan namanya menuturkan, susu kedelai yang diterimanya pada Kamis itu berbau tak sedap dan berubah warna menjadi kekuningan.

“Kemarin menunya susu kedelai, telur rebus, dan pisang cokelat. Tapi susu kedelainya basi, yang menerima kelas 4, 5, dan 6,” ujarnya.

Kepada wartawan media ini, siswa itu mengaku bukan hanya dirinya yang menerima MBG susu kedelai basi tersebut, tapi hampir seluruh siswa di kelasnya menerima susu kedelai dengan kondisi serupa, Jum’at (27/02/2026).

“Punya teman-teman saya juga semuanya basi,” ungkapnya.

Sementara itu, keluhan juga datang dari salah satu wali murid. Ia menyayangkan minuman yang diduga basi itu tetap didistribusikan kepada anak-anak. Tidak hanya itu, menu pisang cokelat (piscok) juga disebutnya dalam kondisi kemasan lecek dengan topping keju dan cokelat menempel pada bungkus, sehingga terlihat kurang layak konsumsi.

“Setidaknya harus ada tim audit di setiap MBG di Tuban supaya tidak terjadi lagi kasus makanan atau minuman basi seperti kemarin,” kata Bagus, salah satu wali murid.

Menurutnya, kejadian ini tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi membahayakan kesehatan siswa. Ia pun mendorong adanya tim audit khusus untuk mengawasi pelaksanaan MBG di wilayah Kabupaten Tuban.

Terkait dengan menu MBG tersebut, pihak SDN Rengel 1 membenarkan adanya laporan tersebut. Saat dikonfrimasi via telpon seluler, Kepala Sekolah mengaku baru mengetahui persoalan itu setelah menerima banyak konfirmasi dari orang tua siswa.

“Orang tua banyak yang menyampaikan ke guru bahwa susu kedelainya ada yang basi,” kata Guncahyo.

Saat dikonfirmasi, pihak sekolah mengaku telah menyampaikan keluhan itu kepada pihak SPPG dan mendapat respons akan segera ditindaklanjuti. Belum diketahui, tindak lanjut seperti apa yang dimaksudkan.

Di satu sisi, perwakilan mitra SPPG Baktya Graha tidak menampik adanya susu kedelai yang basi. Nurul menjelaskan bahwa kejadian itu diduga akibat kesalahan penyimpanan oleh vendor. Menurutnya, susu kedelai produksi UMKM tersebut seharusnya disimpan di lemari pendingin sebelum didistribusikan.

“Sebagian sudah terdistribusi, sisanya kami tahan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Seharusnya memang disimpan di kulkas terlebih dahulu. Setelah sahur diantar dari vendor ke dapur, mungkin kondisinya belum benar-benar dingin lalu langsung dikemas,” jelasnya.

Nurul menambahkan, berdasarkan laporan staf dapur, susu dalam kondisi layak saat diterima para siswa sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung dibagikan. Laporan susu menggumpal baru diterima sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 WIB.

“Lha waktu diterima masih layak, pak. Penerimaan sekitar jam 9 pagi. Terus saya suruh distribusi langsung. Nah dapat laporan kalau susu kedelenya menggumpal sekitar jam 11-12an,”

Nurul menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat dan menyebut kejadian tersebut sebagai evaluasi besar bagi pihaknya.

“Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami. Ke depan harus lebih berhati-hati dan memastikan barang yang disalurkan sesuai petunjuk BGN,” ujarnya.

Di pihak yang sama, Koordinator Mitra SPPG Baktya Graha, Dwi menyampaikan penjelasan berbeda. Menurutnya, berdasarkan keterangan pemasok, susu kedelai tersebut disebut bukan basi, melainkan mengalami pengkristalan.

Ia menjelaskan, distribusi dilakukan pada siang hari, sedangkan selama Ramadan makanan dan minuman umumnya dikonsumsi saat berbuka puasa. Jika tidak disimpan dengan baik hingga sore hari, kualitas produk bisa menurun bahkan bisa basi.

Menurut Dwi, kejadian ini juga menjadi evaluasi dalam penentuan menu selama Ramadan dan ia menyebut bahwa kejadian ini merupakan kesalahan dari ahli gizinya dalam memilih menu. Seharusnya pada Ramadan dipilih menu yang tidak cepat basi karena pasti dikonsumsi saat sore hari atau berbuka.

“Ini murni kesalahan ahli gizi kami dalam memilih menu,” ungkapnya.

Hingga hari ini, keluhan MBG edisi Ramadan terus bermunculan dari masyarakat. Sejak hari pertama pendistribusian pada bulan suci ini, realisasi program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut menuai kritik dari banyak pihak. Kritik datang dari wali murid dan siswa, mulai dari kelayakan menu hingga mutu gizi yang dinilai belum sesuai harapan.

Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program MBG, terutama di bulan Ramadan, agar tujuan pemenuhan gizi siswa tidak justru menimbulkan risiko kesehatan.

(fah)

Populer Minggu Ini

MBG Ramadhan di Tuban Tuai Kritik Publik, DPRD Beri Respons dan Janji Perbaikan

kabartuban.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi...

Kerja Keras Dibalas Umroh, PNM Beri Reward di PKU AKBAR Tuban

kabartuban.com - Suasana kegiatan PKU AKBAR (Pengembangan Kapasitas Usaha)...

Setahun Beroperasi, Hotel Lynn Tuban Belum Kantongi SLF

kabartuban.com - Sebuah hotel bintang empat, Lynn Hotel, yang...

Oknum Satpam BUMN di Tuban Diamankan atas Dugaan Persetubuhan Anak dibawah umur

kabartuban.com - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban mengungkap...

Kasus Perselingkuhan di Hotel Lynn Picu Pemanggilan Satpol PP dan Dampak Citra Hotel

kabartuban.com - Kasus penggrebekan pasangan yang diduga berselingkuh di...

Artikel Terkait