kabartuban.com – Suasana Pagi itu, jarum jam belum lama menunjuk pukul 08.00 WIB. Namun antrean sudah mengular di depan pangkalan LPG milik Dwi Nuriana Mu’jiroh di Jalan Basuki Rahmat, Kabupaten Tuban. Warga berdiri dengan harapan yang sama, membawa pulang satu tabung gas melon.
Di tengah antrean, Mita (22) tampak menggenggam dua tabung kosong. Ia datang sejak pagi, berharap bisa membawa pulang keduanya. Namun kenyataan berkata lain.
“Saya antre dari jam delapan, baru dapat ini. Tadi bawa dua tabung, tapi cuma dapat satu,” ujarnya dengan nada pasrah.
Kelangkaan LPG 3 kilogram di wilayah Tuban kota sudah dirasakan warga dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya menyita waktu, kondisi ini juga memaksa warga mengubah kebiasaan sehari-hari.
Lasmito (54), seorang ibu rumah tangga, mengaku sudah sepekan kesulitan mendapatkan LPG. Saat stok gas di rumahnya habis, ia terpaksa memanfaatkan rice cooker untuk memasak kebutuhan keluarga.
Upayanya mencari gas pun tidak mudah. Ia harus berkeliling ke sejumlah wilayah seperti Karang, Bejagung, hingga Perbon sebelum akhirnya menemukan pangkalan yang masih memiliki stok.
“Sudah keliling ke beberapa tempat, tapi kosong semua. Baru hari ini dapat, itu pun harus antre lama,” katanya. Ia menambahkan, harga yang didapatnya mencapai Rp18 ribu per tabung.
Di sisi lain antrean, kecemasan juga dirasakan Mualimin (51). Berbeda dengan yang lain, ia justru harus pulang dengan tangan kosong setelah kehabisan stok di pangkalan.
Padahal, gas tersebut sangat dibutuhkan untuk usahanya berjualan nasi.
“Saya sangat kecewa. Ini untuk jualan, stok di rumah tinggal satu. Tidak tahu masih bisa jualan atau tidak,” ucapnya lirih.
Kelangkaan LPG 3 kilogram di Tuban kini bukan sekadar persoalan distribusi, melainkan telah merembet pada aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga. Waktu terbuang di antrean, dapur yang tak lagi mengepul, hingga ancaman berhentinya usaha kecil menjadi potret nyata kondisi tersebut.
Meski telah berlangsung hampir tiga pekan, hingga kini pasokan LPG belum sepenuhnya normal. Warga pun hanya bisa berharap distribusi segera membaik, agar mereka tak lagi harus “berburu” gas demi kebutuhan dasar. (fah)
