kabartuban.com – Pagi itu, aktivitas di pasar tradisional Tuban tampak seperti biasa. Namun di balik hiruk pikuk transaksi, ada kegelisahan yang diam-diam menyebar. Setelah sebelumnya dipusingkan kelangkaan elpiji 3 kilogram, kini pelaku usaha kecil kembali dihadapkan pada persoalan baru, harga plastik yang melonjak tajam, disertai stok yang kian menipis.
Bagi sebagian orang, plastik mungkin terlihat sepele. Namun bagi pelaku UMKM, benda tipis ini adalah urat nadi usaha. Tanpanya, produk tak bisa dikemas, dagangan sulit dijual, dan roda usaha terancam tersendat.
Kenaikan harga yang terjadi pun tak tanggung-tanggung. Dari penelusuran di sejumlah pasar, lonjakan harga plastik berkisar antara 40 hingga 100 persen. Plastik jenis anti panas (ATP) menjadi yang paling mencolok. Jika sebelumnya dijual di kisaran Rp35 ribu, kini harganya menembus Rp68 ribu hingga Rp70 ribu.
Muhammad Latif (52), pedagang plastik di Pasar Baru Tuban, mengaku situasi kali ini jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Selama puluhan tahun berjualan, ia jarang menemui kenaikan setajam ini.
“Kalau naik setinggi ini, biasanya barangnya juga ikut langka. Sekarang cari stok itu susah sekali,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Latif bahkan melihat pola kenaikan yang tak biasa. Harga plastik cenderung merangkak naik di awal pekan, lalu melonjak lagi menjelang akhir pekan. Kondisi ini membuat pedagang sulit menentukan harga jual yang stabil kepada pelanggan.
Dampaknya langsung terasa. Daya beli masyarakat menurun drastis. Jika sebelumnya ia bisa menjual hingga lima bal plastik dalam sepekan, kini dua bal saja belum tentu habis.
Situasi ini memaksa banyak pelaku usaha mengambil jalan tengah. Sebagian memilih menaikkan harga jual produk, sementara yang lain menekan biaya dengan beralih ke plastik yang lebih tipis meski kualitasnya jauh dari ideal.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi bisa merembet dari satu komoditas ke komoditas lain. Kelangkaan elpiji yang belum teratasi kini diikuti gejolak harga plastik, menciptakan beban ganda bagi sektor usaha kecil.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa kepastian pasokan dan stabilisasi harga, bukan tak mungkin pelaku UMKM akan semakin terjepit. Usaha yang selama ini bertahan di tengah berbagai tantangan, kini diuji oleh hal-hal yang tampak sederhana, namun berdampak besar.
“Harapannya ya sederhana, harga bisa kembali normal dan barang mudah dicari. Kalau seperti ini terus, kami yang kecil-kecil ini yang paling terasa,” tutur Latif pelan. (fah)
