kabartuban.com – Di ujung Dusun Nyawun, Desa Tegalsari, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, berdiri sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang mulai lapuk dimakan usia, sementara atapnya kerap bocor ketika hujan turun.
Di tempat itulah Kasto (62) menjalani hari-harinya seorang diri.
Tak ada ruang tamu, kamar tidur, maupun dapur yang layak. Seluruh aktivitas Kasto berlangsung dalam satu ruangan sempit yang hanya berisi sebuah ranjang kayu tua beralaskan tikar plastik kusam. Di samping tempat tidurnya, terdapat kompor dan tabung elpiji tiga kilogram yang digunakan untuk memasak makanan sederhana.
Sudah sekitar lima tahun terakhir pria kelahiran 1964 tersebut bertahan hidup dalam keterbatasan. Tanpa pekerjaan tetap dan kondisi fisik yang semakin menurun, Kasto mengandalkan belas kasih tetangga dan kerabat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau hujan ya bocor,” ucap Kasto lirih saat menceritakan kondisi rumah yang ditempatinya.
Usia yang tidak lagi muda membuatnya kesulitan bekerja seperti dahulu. Penghasilannya nyaris tidak ada. Untuk mengganjal perut, ia lebih sering memasak mie instan yang dibelinya dari uang pemberian tetangga atau kerabat.
“Biasanya makan mie. Kalau ada yang ngasih ya makan dua kali sehari,” katanya.
Namun tidak setiap hari ada bantuan yang datang. Ketika tidak ada yang memberi makanan atau kebutuhan pokok, Kasto hanya bisa pasrah menahan lapar.
“Kalau tidak ada yang ngasih, ya begitu saja,” tuturnya.
Kasto sebenarnya memiliki dua orang anak yang kini tinggal dan bekerja di Kalimantan Selatan. Meski komunikasi sesekali masih terjalin, bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari nyaris tidak pernah ia terima.
Kondisi tersebut membuat kehidupan Kasto lebih banyak bergantung pada perhatian warga sekitar yang sesekali datang membawakan makanan atau kebutuhan pokok.
Ironisnya, di tengah kondisi hidup yang serba kekurangan, Kasto mengaku belum pernah menerima bantuan sosial pemerintah secara rutin.
“Saya tidak dapat bantuan. Beras, uang, tidak ada,” ungkapnya.
Kisah Kasto menjadi potret nyata kelompok lansia rentan yang masih hidup di tengah keterbatasan. Ketika usia tak lagi memungkinkan untuk bekerja dan penghasilan tidak tersedia, bantuan sosial seharusnya menjadi jaring pengaman terakhir. Namun bagi Kasto, bantuan tersebut belum pernah benar-benar hadir.
Saat ditanya mengenai harapannya kepada pemerintah, jawaban yang keluar justru menggambarkan keputusasaan yang mendalam.
“Saya tidak tahu,” jawabnya singkat.
Kalimat sederhana itu seolah menunjukkan bagaimana bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan telah membuatnya kehilangan harapan untuk meminta lebih banyak perhatian.
Sementara itu, Pendamping Sosial Kementerian Sosial, Atmo, membenarkan bahwa Kasto memang belum masuk dalam daftar penerima bantuan sosial pemerintah.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi Kasto adalah kendala administrasi kependudukan. Hingga saat ini, Kasto belum memiliki identitas yang dapat digunakan dalam proses verifikasi dan pendataan penerima bantuan sosial.
“Hasil asesmen menunjukkan yang bersangkutan pernah memiliki KTP yang diterbitkan di Kalimantan Selatan,” ujar Atmo.
Kondisi tersebut membuat proses pendataan dan pengusulan bantuan menjadi terkendala. Padahal dokumen kependudukan merupakan syarat penting dalam berbagai program perlindungan sosial yang diselenggarakan pemerintah.
Pihak pendamping sosial telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Tegalsari dan Kecamatan Widang untuk mencari solusi atas persoalan tersebut agar Kasto dapat memperoleh haknya sebagai warga negara.
Atmo menegaskan bahwa kasus seperti yang dialami Kasto seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah desa diharapkan lebih proaktif mendata warga yang belum memiliki dokumen kependudukan agar mereka tidak kehilangan akses terhadap berbagai layanan dasar dan program bantuan.
“Seluruh pemerintah desa diharapkan membuka akses seluas-luasnya bagi warga yang belum memiliki data diri untuk segera didaftarkan dan dibantu proses administrasinya agar mereka dapat memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, termasuk akses terhadap program bantuan sosial,” tegasnya.
Di balik gubuk reot yang nyaris roboh itu, Kasto masih menjalani hari-harinya seperti biasa. Menunggu uluran tangan tetangga, memasak mie instan untuk bertahan hidup, dan berharap hujan tidak turun terlalu deras agar air tidak kembali menetes dari atap rumahnya.
Sebuah potret sunyi tentang kemiskinan, yang terkadang bukan hanya disebabkan oleh ketiadaan penghasilan, tetapi juga karena seseorang belum tercatat sepenuhnya dalam sistem yang seharusnya melindunginya. (fah)
