kabartuban.com – Kabar mengenai dugaan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan anggota Satuan Pengamanan (Satpam) di PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Tuban memicu keresahan di kalangan pekerja. Serikat buruh bahkan mengancam akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan.
Kekhawatiran itu muncul setelah beredar informasi mengenai rencana pengurangan anggaran operasional Departemen Security yang disebut-sebut akan mulai diterapkan pada awal tahun 2027. Dalam skema yang beredar, efisiensi dilakukan melalui dua pilihan, yakni pengurangan jumlah personel atau pemotongan upah pekerja.
Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) FSPMI PT SBI, Shokiful Alfianto, menilai alasan efisiensi yang dikemukakan perusahaan tidak sejalan dengan kondisi usaha yang terlihat di lapangan.
Menurutnya, aktivitas produksi dan distribusi semen masih berjalan normal bahkan cenderung tinggi. Ia mencontohkan lalu lintas kendaraan operasional yang ramai serta adanya ekspor semen ke Amerika Serikat dalam jumlah besar dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, produktivitas masih tinggi. Karena itu alasan efisiensi tidak masuk akal bagi kami,” ujar Shokiful, Senin (22/6/2026).
Bagi serikat pekerja, rencana pengurangan tenaga kerja akan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat sekitar pabrik. Sebab sebagian besar personel keamanan berasal dari wilayah ring satu perusahaan.
“Kami berharap perusahaan mengurungkan rencana tersebut. Kalau sampai terjadi, pemerintah daerah juga harus hadir dan memberikan perhatian,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua FSPMI Kabupaten Tuban, Duraji, menilai kondisi industri semen PT SBI masih menunjukkan aktivitas yang baik sehingga tidak seharusnya ada alasan untuk melakukan pengurangan tenaga kerja.
“Produksi berjalan, ekspor juga lancar. Menurut kami tidak ada alasan untuk melakukan PHK,” kata Duraji.
Ia bahkan menduga isu tersebut bisa menjadi uji coba sebelum diterapkan pada sektor lain apabila tidak mendapat respons dari pekerja.
“Kalau tidak ada gejolak, bisa saja nanti diterapkan di sektor lainnya,” ujarnya.
FSPMI memastikan akan mengambil langkah perlawanan apabila kebijakan yang dinilai merugikan pekerja itu benar-benar diberlakukan.
“Kalau rencana itu tetap dilakukan, kami siap menggelar unjuk rasa besar-besaran,” tegas Duraji.
Sementara itu, Corporate Communication Regional 3 PT Solusi Bangun Indonesia Pabrik Tuban, Ario Patra Nugraha, membantah adanya rencana pemutusan hubungan kerja sebagaimana informasi yang beredar.
Menurut Ario, hingga saat ini perusahaan tidak memiliki agenda melakukan PHK terhadap tenaga pengamanan maupun pekerja lainnya.
“Hingga saat ini PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Tuban tidak memiliki rencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan memang sedang melakukan berbagai upaya efisiensi sebagai respons terhadap tekanan industri semen nasional yang dipengaruhi perlambatan ekonomi dan dinamika geopolitik global.
“yang dilakukan Perusahaan adalah mengupayakan efisiensi dari berbagai lini operasi, sebagai salah satu langkah merespon kondisi industri domestik yang mengalami tekanan karena perlambatan ekonomi dan tensi geopolitik,”
Meski demikian, perusahaan tetap mendorong mitra kerja untuk mencari peluang efisiensi dengan mengutamakan sumber daya lokal. PT SBI juga menyatakan terbuka terhadap masukan dari berbagai pemangku kepentingan guna menemukan solusi terbaik bagi keberlangsungan usaha sekaligus menjaga kontribusi terhadap perekonomian Kabupaten Tuban.
“Perusahaan berkomitmen menjalankan bisnis secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan tata kelola perusahaan yang baik,” pungkasnya. (fah)
