kabartuban.com – Kisah pilu dialami Kasmi (66), seorang wanita lanjut usia asal Desa Sokosari Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan dan penampungan selama hampir tiga bulan di Rumah Perlindungan Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (RPS PMKS) Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A dan PMD) Kabupaten Tuban, Rabu (24/06/2026) pagi.
Kasmi sebelumnya sempat terjaring operasi penertiban gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Gresik. Sebelum akhirnya dibawa di dinsos tuban
Plt Kepala Bidang Pemberdayaan Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Korban Tindak Kekerasan, Dinsos P3A serta PMD Tuban, Hermawan, menjelaskan bahwa sebelum Hari Raya Idulfitri lalu, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial Gresik untuk menjemput dan memulangkan kasmi ke Tuban.
“Sebelumnya beliau terlantar di Gresik dan sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit. Setelah itu kami evakuasi ke Tuban,” ujar Hermawan.
Saat tiba di Tuban, kondisi kesehatan kasmi sudah menurun. Ia diketahui menderita stroke dan beberapa kali menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, keterbatasan administrasi BPJS menjadi salah satu kendala dalam penanganan lebih lanjut.
Selama berada di Tuban, Kasmi tinggal di bawah pengawasan Dinas Sosial. Menurut Hermawan, kondisi kesehariannya relatif stabil meski memiliki riwayat sebagai perokok berat.
“Kalau aktivitas sehari-hari masih seperti biasa. Namun beliau memang perokok berat sehingga cukup sulit untuk menghentikan kebiasaan tersebut,” katanya.
Yang memprihatinkan, upaya Dinas Sosial untuk menghubungi pihak keluarga tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Berdasarkan penelusuran, kasmi tidak memiliki anak dan hanya mempunyai kerabat berupa keponakan. Namun keluarga disebut enggan menerima maupun merawatnya.
“Kami sudah menghubungi keluarga. Bahkan ada keponakan yang kami temui, tetapi tidak bersedia menerima beliau,” ungkap Hermawan.
Dinas Sosial juga sempat berupaya mencarikan tempat di panti sosial. Namun kondisi kesehatan kasmi yang terus menurun membuat proses tersebut tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Kasmii akhirnya meninggal dunia pada Selasa pagi. Kabar duka tersebut telah disampaikan kepada pihak keluarga. Dinas Sosial masih berupaya menyerahkan proses pemakaman kepada keluarga terlebih dahulu.
“Kalau keluarga bersedia menerima, maka akan kami serahkan. Namun jika tetap menolak, pemerintah akan memfasilitasi proses pemakamannya, tapi tadi sudah ada pihak keluarga yang kesini,”jelas Hermawan.
Selama beberapa tahun terakhir ia hidup berpindah-pindah tanpa pekerjaan dan tempat tinggal tetap hingga akhirnya terlantar di wilayah Gresik.
Kisah kasmi menjadi potret nyata tentang persoalan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat, ketika seseorang harus menjalani hari-hari terakhir hidupnya dalam kondisi sakit, terlantar, dan jauh dari perhatian keluarga. (fah)
