Peringati Hari Anak Nasional, Mahasiswa KKN UNIROW Tuban Kampanyekan Stop Bullying di Sekolah Desa Maibit

kabartuban.com – Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 13 Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) Tuban untuk ikut menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda. Salah satunya dilakukan melalui sosialisasi gerakan Stop Bullying yang menyasar siswa sekolah dasar di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Kegiatan edukasi tersebut digelar di dua lembaga pendidikan yang berada di Desa Maibit, yakni SDN 1 Maibit dan Madrasah Ibtidaiyah Suwasta (MIS) Roudlotut Tholibin Ash Shodiqin. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN untuk mengajak anak-anak memahami bahaya perundungan sekaligus membangun kesadaran bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap anak.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai apa itu bullying, bentuk-bentuk perundungan yang kerap terjadi di lingkungan anak-anak, serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap korban. Tidak hanya perundungan secara fisik, mahasiswa juga mengenalkan bentuk bullying secara verbal maupun melalui tindakan yang dapat membuat seseorang merasa dikucilkan, direndahkan, atau kehilangan rasa percaya diri.

Mahasiswa KKN juga mengajak para siswa untuk tidak menjadi bagian dari perilaku bullying. Anak-anak didorong untuk saling menghargai, menghormati perbedaan, serta berani berbicara kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya apabila melihat maupun mengalami tindakan perundungan.

Ketua KKN Desa Maibit, Fahri Sulaiman, mengatakan sosialisasi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap tumbuh kembang anak-anak di Desa Maibit. Menurutnya, pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah terjadi, tetapi perlu dimulai sejak dini melalui pendidikan karakter dan pembiasaan sikap saling menghormati.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa bullying bukanlah sebuah candaan. Perilaku yang dianggap sepele oleh pelaku bisa saja memberikan dampak yang besar bagi orang lain,” ujarnya.

Fahri menambahkan, anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang pentingnya membangun pertemanan yang sehat. Dengan begitu, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kami berharap setelah sosialisasi ini anak-anak bisa lebih memahami bagaimana cara memperlakukan teman dengan baik. Kalau ada perbedaan, jangan dijadikan alasan untuk mengejek atau merendahkan. Justru perbedaan harus menjadi bagian dari proses untuk saling menghargai,” imbuhnya.

Menurutnya, lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar bersosialisasi, membangun kepercayaan diri, dan memahami nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari bullying membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya siswa, tetapi juga guru, orang tua, serta masyarakat memiliki peran dalam memberikan pengawasan dan pendampingan kepada anak.

“Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi langkah kecil untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih ramah anak. Kami ingin anak-anak di Desa Maibit tumbuh dengan rasa percaya diri, saling menghargai, dan tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri,” pungkasnya. (fah)

Banner

Berita Terbaru

Artikel Lainnya