kabartuban.com- Kasus penembakan terhadap petugas polisi yang sedang berjaga di Pos Black Spot, kawasan Jati Peteng, Desa Beji, Kecamatan Jenu Adalah amaliah atau balas Dendam.
Pernyataan tersebut diungkapkan Kapolda Jawa Tumur, Irjen Pol Macfhud Arifin, saat memberikan keterangan Pers di Mapolres Tuban, Sabtu, (8/4/2017) malam kemarin pasca penyergapan diserta baku tembak komplotan teroris di Kawasan Bukit Wilis, Desa Suwalan, Jenu Tuban.
“Tujuan mereka ini adalah balas dendam,” kata Irjen Pol Macfhud Arifin.
Keterkaitan kelompok tersebut dapat dilihat dari barang bukti yang diamankan petugas diantaranya adalah buku jihad, dan perlengkapan persenjataan yang ada dalam mobil Daihatsu Terios yang ditinggalkan pelaku.
“Ada keterkaitan dengan Jamaah Ansori Dalwah atau JAD yang sebelumnya ditangkap petugas. Kebetulan yang ditangkap adalah tokohnya, dan aksi ini adalah balas dendam,” jelasnya.
Lebih lanjut, enam terduga teroris yang ditembak mati petugas gabungan TNI, Brimob Polda Jatim serta Densus 88 tersebut juga menyiapkan diri untuk kabur setelah aksi, terlihat dari pasport yang salah satunya ditemukan dalam kendaraan atas nama Satria, warga Semarang yang juga tewas dalam penyergapan.
“Memang ada tujuan melarikan diri, melihat persiapan pasport salah satu diantara mereka, kalau udah berhasil menembak anggota langsung kabur dia,” Ungkap Irjen Pol Macfhud ini.
Diberitkan sebelumnya, kasus penyergapan terduga teroris ini bermula dari aksi penembakan terhadap petugas jaga di pos Jati peteng, Desa Beji, Jenu. Usai penembakan yang berjumlah enam orang ini kabur dan bersembunyi di lahan pertanian desa Suwalan, Kecamatan Jenu, sebeluam akhirnya ditembak mati petugas. (Luk)
