Nelayan Kecil Semakin Tersingkirkan

427

nelayanrkabartuban.com – Banyaknya pelabuhan yang didirikan sejumlah perusahaan di wilayah pesisir pantai Tuban, membuat para nelayan kecil, tidak lagi mampu menikmati hasil laut yang menjadi sumber kehidupan para nelayan.

Semakin sulitnya nelayan melakukan penangkapan ikan, disebabkan wilayah tangkap mereka yang semakin tahun semakin menyempit, dengan makin banyaknya perusahaan mendirikan pelabuhan.

Seperti yang terlihat di kawasan barat Tuban, pelabuhan Semen Indonesia yang berada di Desa Socorejo Kecamatan Jenu, dan juga Perusahaan Holcim, yang mendirikan pelabuhan di Desa Glondonggede Kecamatan Tambakboyo.

Didaerah Junu juga ada pelabuhan yang dibangun PT. Trans Pasific Petrochemicel Indotama (TPPI), yang biasanya menjadi tempat bersandar kapal tangker pengisihan Bahan Bakar Minyak (BBM), dikawasan yang sama juga ada pelabuhan milik PT. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), serta pelabuhan yang dimiliki perusahaan PT. Pertamina, Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tuban.

Dipenghujung tahun 2014 ini pun, nasib nelayan kecil semakin memilukan, dengan semakin sempitnya wilayah tangkap mereka, dengan keberadaan kapal penyimpanan dan alir muat terapung, Floating Storege Off loading (FSO), Gagak Rimang, yang akan dioprasikan oleh perusahaan asing Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL), dikawasan Kecamatan Palang, yang akan bersandar di titik 23 kilometer dari bibir pantai.

“Para nelayan di Tuban semakin hari semakin sempit wilayah tangkap mereka, dan tersingkir, karena para perusahaan melarang nelayan mencari ikan, disekitar pelabuhan” Ungkap Faisol, salah seorang tokoh nelayan di Tuban.

Lebih lanjut salah satu pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Tuban ini mengungkapkan, sekarang diwilayah timur ada FSO, penyimpan minyak mentah, menjadikan ladang nelayan semakin sempit dan susah “Sekarang diwilayah Palang ada dua kapal Tangker, FSO Gagak Rimang dan FSO Cinta Natomas, jadi para nelayan Tuban, dari timur hingga barat, banyak terhalang pelabuhan-pelabuhan milik perusahaan, membuat nelayan semakin tersingkir” terang Faisol.

Namun, kondisi yang demikian tidak berpengaruh bagi para nelayang yang mengunakan perahu besar, “Tetapi nelayan Tuban jarang yang punya kapal besar, mereka hanya mengunakan kapal tertentu dengan jarak terbatas, terkecuali daerah Palang, yang punya perahu besar” pungkasnya (Pul)