kabartuban.com – Marsuti (50) dan suaminya Tasmin (55) masih nampak trauma saat Kapolres Tuban mengunjungi rumahnya di RT1/RW1 Desa Suwalan, Kecamatan, Jenu, Tuban, Kamis (13/4/2017) siang tadi.
Pasangan suami istri itupun belum berani kembali mengerjakan lahanya di kawasan Bukit Wilis, yang menjadi lokasi penyergapan enam terduga teroris pada sabtu pakan lalu yang seluruhnya tewas ditembak mati oleh petugas gabungan TNI dan Polri.
“Sebenarnya masih takut mas, tapi pak polisi tadi bilang gak usah khawatir semua sudah ditangkap,” kata Marsuti (13/4/2017).
Untuk mengobati trauma Marsuti, Kapolres mengaku akan membawakan psikolog untuk merecovery (mengembalikan) psikis pasangan suami istri itu, dari trauma setelah melihat penyergapan terduga teroris yang bersembunyi diladang Jagung miliknya.
“Untuk itu kami akan bawakan Psikolog untuk konseling, agar merecovery keluarga trauma ini,” kata Kapolres.
Disampaikan pula oleh Kapolres, rasa trauma atau rasa takut yang timbul itu dinilai wajar, pasalnya kejadian itu tidak sering terjadi, bahkan tidak disangka oleh Marsuti dan suami, maka butuh waktu untuk mengembalikan psikis-nya.
“Karena rasa takut dan trauma itu membutuhkan waktu untuk recovery,” lanjut Kapolres.
Untuk diketahui, Sabtu pekan lalu petugas menembak mati enam terduga teroris yang bersembunyi di ladang Jagung milik Marsuti, disaat yang sama Marsuti dan suaminya tengah membersihkan rumput liar, hingga akhirnya meletus baku tembak antara terduga teroris dan petugas. (Luk)
