kabartuban.com – Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) yang merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) di Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, menuai keluhan dari warga sekitar. Aktivitas pemancangan paku bumi dalam proyek tersebut disebut memicu getaran yang berdampak pada kerusakan sejumlah rumah warga.
Hari, salah satu warga yang rumahnya berada tepat di belakang lokasi proyek, mengaku mulai menemukan retakan pada beberapa bagian tembok rumahnya setelah proses pemancangan berlangsung. Bahkan, retakan juga muncul pada beton di bagian langit-langit.
“Gara-gara pemasangan paku bumi kemarin ini terjadi getaran terus, tembok-tembok jadi retak,” ujar Hari kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
Ia menuturkan, getaran yang muncul selama proses pekerjaan juga sempat membuat beberapa genting rumahnya bergeser hingga melorot. Kerusakan tersebut kini sudah diperbaiki secara mandiri.
“Genting di rumah kami juga sempat melorot, tapi langsung kami benahi,” katanya.
Tak hanya kerusakan bangunan, Hari juga mengeluhkan saluran pembuangan di belakang rumahnya yang kini tersumbat. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas pembangunan sekolah yang berada sangat dekat dengan permukiman warga.
Menurutnya, hingga saat ini warga belum pernah menerima sosialisasi resmi terkait proyek tersebut, baik dari pihak kontraktor maupun pemerintah daerah. Keluhan warga sejauh ini baru disampaikan melalui ketua RT untuk diteruskan ke pihak kelurahan.
“Sudah kami sampaikan lewat RT. Katanya nanti setelah pembangunan selesai warga akan dikumpulkan oleh kontraktor,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai aktivitas proyek tidak hanya berdampak pada bangunan rumah, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan seperti debu dan saluran air yang tersumbat.
Warga tersebut juga mengkhawatirkan potensi banjir yang bisa semakin parah jika elevasi lahan proyek lebih tinggi dari permukiman sekitar.
“Di sini sebelum ada pembangunan saja sudah sering banjir. Kalau tanahnya dinaikkan lagi, air bisa makin tinggi,” katanya.
Ia berharap pihak perusahaan pelaksana proyek lebih memperhatikan dampak pembangunan terhadap lingkungan dan warga sekitar. Selain itu, ia juga meminta pemerintah daerah turun tangan untuk memastikan keluhan warga mendapat penanganan.
Sementara itu, Lurah Mondokan, Adit Dharmawan, membenarkan adanya laporan warga terkait kerusakan rumah yang diduga dipicu getaran saat pemasangan paku bumi.
“Memang benar ada keluhan dari warga terkait tembok rumah yang retak. Keluhan tersebut sudah kami sampaikan ke PT Waskita Karya selaku pelaksana proyek,” ujarnya.
Menurut Adit, pihak kontraktor telah menerima laporan tersebut dan berencana menemui warga setelah proses pembangunan selesai. Pertemuan itu direncanakan agar penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh jika ditemukan dampak lain selama proyek berlangsung.
“Rencana pada minggu-minggu ini akan dilakukan sosialisasi oleh Pihak PT penggarap proyek tersebut,”
Selain berkoordinasi dengan pihak kontraktor, pemerintah kelurahan juga telah menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Sosial sebagai instansi yang membidangi program tersebut di daerah.
Terkait persoalan drainase yang tersumbat, Adit menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh runtuhnya dinding selokan yang sebelumnya sudah dalam kondisi rapuh. Getaran saat proses pemancangan paku bumi diduga mempercepat kerusakan tersebut hingga akhirnya menyumbat aliran air.
“Setelah ada getaran, dinding selokan runtuh dan akhirnya menyumbat saluran,” jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3A PMD) Tuban belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan masih belum mendapat respons. (fah)



