kabartuban.com – Keberadaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, mendadak menjadi sorotan setelah sempat muncul dalam daftar lelang Bank BRI.
Informasi itu sebelumnya tampil di situs resmi lelang BRI, yang mencantumkan objek berupa “kantor makan bergizi gratis” dengan nilai limit mencapai Rp1 miliar. Dalam keterangan yang dipublikasikan pada 26 Februari 2026, aset tersebut disebut memiliki luas tanah 502 meter persegi dan bangunan 300 meter persegi, lengkap dengan fasilitas dasar serta berdiri sejak 2017.
Namun, pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut, Junaidi, membantah keras keterkaitan aset itu dengan persoalan kredit perbankan.
“Mboten leres (tidak benar). Saya tidak punya hutang dengan BRI,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (31/3/2026).
Ia menegaskan, operasional dapur yang dikelola Yayasan Harapan Mulia Sejahtera itu sepenuhnya menggunakan dana pribadi, tanpa melibatkan pinjaman bank. Bahkan, tawaran pembiayaan dari pihak bank sebelumnya juga tidak diambil.
“BRI sempat menawarkan pinjaman untuk program MBG, tapi tidak saya terima. Semua ini pakai uang sendiri,” tegasnya.
Di tengah polemik tersebut, Junaidi memastikan aktivitas dapur tetap berjalan normal. Dalam enam bulan terakhir, kapasitas produksi bahkan meningkat signifikan hingga mencapai 4.000 porsi.
Meski demikian, munculnya informasi lelang itu diakuinya menimbulkan keresahan. Ia menilai publikasi tersebut berpotensi merusak reputasinya sebagai pengelola program sosial.
“Mencemarkan nama baik, bisa saya tuntut,” ujarnya.
Sementara itu, pihak BRI Tuban memastikan bahwa aset yang sempat tercantum tersebut tidak lagi dalam proses lelang. Perwakilan Divisi Pelanggan Aset, Reno, menyebut status kredit nasabah terkait telah diselesaikan.
“Nasabah sudah lunas, sehingga agunan tidak jadi dilelang dan iklan sudah diturunkan atau take down,” jelasnya singkat.
Pantauan pada Rabu (1/4/2026), informasi lelang yang sempat muncul itu sudah tidak dapat diakses di situs resmi.
Kasus ini pun menyisakan pertanyaan, bagaimana sebuah dapur program sosial bisa sempat tercantum sebagai objek lelang, sebelum akhirnya dinyatakan lunas dan ditarik dari publikasi. (fah)
