Lamongan – Perjuangan Ulama di Jawa Timur untuk mengejawantahkan ajaran Rasulullah SAW terus bergulir secara estafet dan membangun infrastruktur tradisi dakwah yang cukup kuat dan mengakar. Hal ini tercermin dalam gerak langkah para pengasuh Pondok Pesantren di Jawa Timur dalam meneruskan estafet dakwah para pendahulunya.
KH. Mohammad Idris Djamaludin menjadi cerminan bagaimana lentera keilmuan pesantren terus berpijar di tengah hiruk pikuk jaman yang sangat dinamis. Putra Mahkota KH. Moch. Djamaluddin Ahmad, Tambakberas Jombang tersebut membangun keberlanjutan sanad dan hubungan santri dan gurunya.
Kiai Idris yang saat ini mengemban amanat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Tambakberas Jombang, membangun silaturahmi dengan alumni Al-Muhibbin dari berbagai generasi yang terhimpun dalam organisasi HIKAM (Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin), melalui forum Halal Bihalal HIKAM di berbagai daerah.
Dalam kesempatan Halal Bihalal HIKAM di Lamongan yang diselenggarakan HIKAM Cabang Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro, Kiai Idris membuka dengan kalimat yang cukup epik, dimana beliau melakukan kegiatan ini tidak lain adalah bentuk akhlaq seorang anak kepada orangtuanya.
“Saya ini dalam rangka menyambung silaturahim dengan orang-orang yang dicintai Abah saya. Karena bagian dari akhlaq seorang anak yang baik adalah menyambung silaturahim terhadap siapa saja yang sambung baik dengan orang tuanya,” kata Kiai Idris membuka tausiyahnya, Sabtu (11/04/2026).
Kalimat singkat itu tentu bukan hal sederhana, secara tersirat dapat dipahami sebagai bentuk ketawadlu’an, keluhuran akhlaq beliau, dan menjadi sebuah pembelajaran penting bagaimana akhlaq seorang anak kepada orang tuanya, bahkan ketika sang Abah sudah tiada.
Tradisi estafet pengasuhan Kiai kepada para santrinya ini menjadi cahaya cerah bagi umat, dimana hal ini menjadi harapan besar dan jaminan keilmuan pesantren serta aqidah ahlussunah wal jama’ah yang tak akan lekang oleh jaman dan menjadi cahaya untuk umat islam di Indonesia.
Kiai Idris merupakan manisfestasi Ulama yang dengan kuat memegang tradisi pesantren dan dengan dinamis bergerak merespon dinamika jaman melesat tanpa batas. Seluruh ajaran Abahnya serta tradisi pesantren dipegang dan dijaga dengan kuat, di satu sisi santri dibimbing untuk peka dengan kondisi masyarakat saat ini, dan berjuang untuk kemanfaatan ilmu yang bisa dilakukan.

Sementara itu, KH. Nur Hadi selaku Ketua HIKAM, memberikan sambutan yang memotivasi para santri untuk terus bersambung dengan gurunya dan tidak berhenti dalam menjalankan misi dakwah di masyarakat.
Kiai Nurhadi yang akrab disapa Mbah Bolong itu mengibaratkan alumni sebagai pohon yang akan tumbuh subur dan berbuah lebat jika memiliki akar yang kuat. “Akar itu adalah keterhubungan dengan kiai. Kalau hubungan itu terjaga, maka keberkahan akan mengalir,” sambut Mbah Bolong.
Lebih lanjut, Mbah Bolong menegaskan bahwa anggota HIKAM harus memiliki karakter utama, yakni munadzim (mampu menata), muwahid (pemersatu), mujaddid (pembaharu), dan mujahid (pejuang). Da’i yang lagi naik daun itu mengingatkan pentingnya meneladani akhlaq Nabi Muhammad SAW, yakni memudahkan urusan serta menyampaikan dakwah dengan penuh kabar gembira, bukan dengan cara yang menakutkan.
Melalui forum HIKAM di Lamongan dan di berbagai daerah yang lain, Kiai Idris mengajak para santri berdialog, menyampaikan apa yang dihadapi di masyarakat setelah pulang dari pesantren. Melalui diskusi tersebut, persoalan santri baik secara pribadi maupun masalah umat tersampaikan dan dengan semangat yang sama berproses. Bagaimana ilmu yang telah diemban dari pesantren dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat, dengan berpegang pada ajaran sang guru, KH. Moch. Djamaluddin Ahmad.
Sosok KH. Moch. Djamaluddin Ahmad yang kharismatik dan dikenal luas dengan keilmuan dan pengasuahannya kepada santri dan masyarakat, menjadi sumber inspirasi dan motivasi perjuangan dakwah islam ahlussunah wal jama’ah di Indonesia. Dengan estafet yang saat ini diemban oleh KH. Mohammad Idris Djamaluddin, menjadi buah indah dan pijar yang terang keberlangsungan tradisi keilmuan pesantren.
Penulis; Muhaiminsah, M.I.Kom
