Pengrajin Tusuk Sate di Perbon Kebanjiran Pesanan Menjelang Idul Adha

kabartuban.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, denyut aktivitas di Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban, mulai terasa berbeda. Tumpukan bambu memenuhi sudut-sudut rumah warga, sementara suara belahan bambu dan proses meruncingkan tusuk sate terdengar silih berganti sejak pagi hingga malam hari.

Momen Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin tusuk sate di kampung tersebut. Permintaan yang meningkat untuk kebutuhan bakar sate saat hari raya membuat produksi ikut melonjak dibanding hari-hari biasa.

Di salah satu rumah sederhana, Raminah (60) tampak sibuk menyelesaikan pesanan tusuk sate. Tangannya cekatan membelah bambu, menghaluskan, lalu mengikat hasil produksi sebelum nantinya diambil pembeli.

Perempuan yang telah puluhan tahun menekuni usaha rumahan itu mengaku, menjelang Idul Adha pesanan datang lebih ramai dari biasanya. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan hingga 100 sampai 150 ikat tusuk sate, tergantung jumlah permintaan.

“Kalau mendekati hari raya memang lebih ramai mas. Bisa sampai seratus sampai seratus lima puluh ikat sehari,” ujar Raminah.

Setiap ikat dijual seharga Rp1.000. Isi per ikat pun tidak dihitung satu per satu, melainkan ditakar menggunakan segenggam tangan dengan jumlah sekitar 50 hingga 80 batang.

Pada hari biasa, pesanan yang diterima berkisar 70 hingga 80 ikat. Namun menjelang Idul Adha, jumlah itu meningkat tajam dalam waktu singkat.

Tak hanya memproduksi tusuk sate, Raminah juga membuat berbagai perlengkapan berbahan bambu lainnya, seperti jepitan ikan bakar hingga tusukan jajanan sempol, cilok, dan telur gulung.

Bahan baku bambu biasanya diantar langsung ke rumahnya oleh pemasok. Dari satu lonjor bambu, ia bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan ikat tusuk sate, tergantung ukuran yang dibuat.

Seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual. Mulai dari memotong bambu, membelah, menghaluskan, meruncingkan, hingga mengikat, semuanya dikerjakan dengan tangan tanpa bantuan mesin.

Meski terlihat sederhana, usaha tersebut menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya selama bertahun-tahun. Dari hasil membuat tusuk sate, Raminah mengaku mampu membiayai kebutuhan rumah tangga hingga menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

“Sudah lama sekali kerja seperti ini. Alhamdulillah hasilnya bisa untuk hidup dan menyekolahkan anak sampai kuliah,” tuturnya.

Di Kelurahan Perbon, Raminah bukan satu-satunya pengrajin tusuk sate. Banyak warga lain yang menggantungkan penghasilan dari kerajinan bambu serupa.

Bagi para pengrajin, Idul Adha bukan hanya tentang meningkatnya kebutuhan sate di tengah masyarakat, tetapi juga menjadi musim panen rezeki yang selalu dinantikan setiap tahunnya. (fah)

Populer Minggu Ini

Polisi Bongkar Gudang Narkoba di Tuban, Sabu 101 Gram dan 5.000 Pil LL Digagalkan Beredar

kabartuban.com - Upaya peredaran narkotika dalam jumlah besar di...

Momentum Idul Adha, Solusi Bangun Indonesia Distribusikan Puluhan Hewan Kurban di Tuban

kabartuban.com - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, PT...

Spesialis Maling Sapi Antar Kota Dibekuk, Uang Hasil Curian Dipakai Pesta Miras

kabartuban.com – Misteri maraknya pencurian sapi yang meresahkan peternak...

Tuban Kembali Terima Sapi Kurban Presiden, Beratnya Capai 1.004 Kilogram

kabartuban.com - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, peternak...

Sembako Ditolak, Warga Socorejo Minta SIG Bicara Terbuka Soal Perpanjangan SHGB Pelabuhan

kabartuban.com - Bantuan sembako dari PT Semen Indonesia (SIG)...

Artikel Terkait