kabartuban.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Klutuk, Kecamatan Tambakboyo, menuai sorotan. Bukan karena kekurangan porsi atau nilai gizi, melainkan karena mayoritas siswa justru enggan menyantap makanan yang disajikan.
Pantauan di sekolah menunjukkan sejumlah paket makanan masih tersisa di meja belajar. Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, omelet, tumis kangkung, tempe, dan susu kemasan. Secara komposisi, hidangan tersebut dinilai telah memenuhi standar gizi. Namun, bagi sebagian siswa, rasa makanan dianggap kurang menggugah selera.
Salah satu wali murid mengungkapkan, banyak anak memilih tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Ia mempertanyakan apakah program tersebut benar-benar memperhatikan kualitas rasa, atau sekadar berfokus pada penyaluran.
“Anak-anak banyak yang tidak habis makannya karena tidak selera. Kami berharap kualitas rasa juga diperhatikan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Program ini dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Harum Bersinar yang berbasis di Desa Sawir. Saat ini, dapur MBG tersebut telah mendistribusikan sekitar 445 porsi makanan kepada siswa.
Kepala SPPG, Mochammad Wahyu, mengakui adanya kendala dalam proses pengolahan di dapur. Meski demikian, ia memastikan takaran nutrisi dalam setiap menu telah sesuai standar.
“Secara gramasi sudah terpenuhi. Namun memang ada kendala teknis di dapur yang akan kami evaluasi,” jelasnya.
Kritik juga datang dari Ketua Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Tuban, Budiono. Ia menilai perlunya pengawasan lebih ketat serta respons cepat terhadap keluhan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari distribusi, tetapi juga dari sejauh mana makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh siswa.
“Kami diminta mengawasi, tapi keluhan di bawah malah tidak direspons. Ini soal komitmen. Jangan sampai program MBG ini hanya terlihat cantik di laporan meja kantor, tapi realitanya di lapangan amburadul,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, Koordinator SPPG Kabupaten Tuban, Aulia Rizqi, belum memberikan keterangan resmi.
Kondisi di SD Klutuk menjadi catatan penting bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Selain memastikan kecukupan gizi, aspek cita rasa dinilai tak kalah penting agar program benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak. (fah)
