kabartuban.com – Di tengah berbagai spekulasi mengenai nasib proyek strategis nasional (PSN) Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proyek tersebut belum berhenti. Menurutnya, proses pengambilan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) oleh mitra asal Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, hingga kini masih terus berjalan.
Kepastian itu disampaikan Bahlil saat menghadiri peresmian Mini LNG Plant milik PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).
Meski tidak menjelaskan secara rinci perkembangan proyek, Bahlil menegaskan bahwa kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dan Rosneft masih berada dalam tahapan proses.
“Untuk Rosneft nanti langsung tanya Pertamina. Itu kan kerja sama Pertamina dengan Rosneft. Tapi sejauh yang saya tahu masih on progress,” ujar Bahlil kepada awak media.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa megaproyek Kilang Tuban senilai sekitar US$24 miliar atau setara Rp391,9 triliun masih berada di jalur pengembangan, meski keputusan investasi final dari Rosneft belum diumumkan.
Optimisme terhadap kelanjutan proyek juga terlihat dari langkah Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) yang mulai membuka prakualifikasi tender Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) untuk pembangunan Kilang Tuban.
dikutip dari laman Bloomberg Technoz, PRPP membuka dua paket pekerjaan, yakni kilang I GRR Tuban dan Kilang II GRR Tuban. Tender tersebut terbuka bagi perusahaan nasional maupun internasional, baik berbentuk perusahaan tunggal, konsorsium, joint venture (JV), maupun joint operation(JO).
Khusus peserta berbentuk konsorsium, PRPP mewajibkan adanya keterlibatan sedikitnya satu perusahaan nasional sebagai bentuk penguatan industri dalam negeri.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, sebelumnya juga menegaskan bahwa proses FID proyek GRR Tuban hingga kini masih berlangsung.
“Untuk FID Proyek GRR Tuban saat ini masih dalam proses,” ujar Roberth, Jumat (8/5/2026). Dikutip dari laman resmi Bloombergthcnoz.com
Menurutnya, pembukaan prakualifikasi tender dilakukan untuk menjaring kontraktor yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam mengerjakan proyek kilang berskala besar. Kontraktor yang lolos tahapan tersebut nantinya akan mengikuti proses tender EPCC sebagai bagian dari pelaksanaan proyek.
Sebagai salah satu proyek kilang terbesar di Indonesia, GRR Tuban dirancang memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 300 ribu barel per hari (bph). Proyek ini dikembangkan oleh PRPP, perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki 55 persen oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan 45 persen oleh Rosneft Singapore Pte Ltd.
Meski belum ada kepastian kapan keputusan investasi final akan diterbitkan, sejumlah tahapan yang terus berjalan menunjukkan proyek Kilang Tuban masih menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. (fah)
