kabartuban.com – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur berdampak pada ribuan hektare lahan pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur mencatat sebanyak 3.856 hektare lahan pertanian di 38 kabupaten/kota terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, 597,11 hektare di antaranya merupakan lahan tanaman padi.
Kepala DPKP Jawa Timur, Heru Suseno, menyampaikan bahwa berdasarkan data hingga 10 September 2026, seluas 149,95 hektare lahan padi telah mengalami puso atau gagal panen. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat Jawa Timur merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional.
Heru menjelaskan, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Kekurangan pasokan air selama musim kemarau berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan petani kehilangan hasil panen.
“Ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya. Karena komoditas pertanian kita itu kan memang sumber utama untuk kehidupannya itu kan air,” ujar Heru, Kamis (14/10/2026).
Meski demikian, Heru menegaskan bahwa lahan yang terdampak kekeringan tidak semuanya berakhir dengan gagal panen. Sejumlah lahan masih berpotensi diselamatkan selama tanaman belum mengalami kerusakan permanen dan masih memungkinkan untuk dipulihkan.
Menurutnya, status puso diberikan kepada lahan pertanian yang tanamannya sudah tidak dapat diselamatkan sehingga tidak lagi menghasilkan panen.
“Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso. Puso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan sekaligus membantu meringankan kerugian petani, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Pertanian dan pemerintah kabupaten/kota terus memperkuat langkah mitigasi.
Salah satu upaya yang disiapkan Pemprov Jatim yakni bantuan benih padi gratis melalui Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2026. Program tersebut dialokasikan untuk mendukung penanaman kembali di lahan dengan cakupan hingga 1.000 hektare.
Heru berharap prakiraan turunnya hujan pada pertengahan Oktober 2026 dapat membantu mengurangi risiko bertambahnya luas lahan pertanian yang mengalami puso. Ketersediaan air diharapkan mampu memulihkan kondisi lahan dan mendukung keberlanjutan produksi padi.
“Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare. Karena perhitungan kita kalau sampai September ini baru 149,95 hektare, maka Oktober sudah ada air, kira-kira naiknya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.
Pemerintah berharap langkah antisipasi tersebut dapat menekan dampak kekeringan terhadap petani sekaligus menjaga stabilitas produksi beras di Jawa Timur. (meylia)
