kabartuban.com – jumlah pelanggan di salah satu jaringan supermarket di Kabupaten Tuban menjadi sinyal adanya perubahan pola belanja masyarakat. Kondisi tersebut bukan serta-merta menunjukkan daya beli warga Tuban merosot, melainkan konsumen dinilai mulai memiliki lebih banyak pilihan tempat dan cara berbelanja.
Manager Samudra, Muhammad Suwaji menyebut, aktivitas belanja masyarakat sejak awal 2026 hingga Agustus relatif stagnan. Namun, jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, jumlah pelanggan mengalami penurunan sekitar 8 hingga 10 persen.
Pengelola Samudra menilai, penurunan tersebut belum bisa dijadikan tolok ukur bahwa kondisi perekonomian Tuban secara keseluruhan ikut melemah.
Pasalnya, konsumen yang sebelumnya berbelanja di Samudra bisa saja masih berada di Tuban, tetapi mengubah pola belanjanya. Mereka mungkin berpindah ke supermarket lain, minimarket, pusat perbelanjaan, maupun beralih ke platform belanja online.
“Kalau dibandingkan Januari sampai sekarang relatif stagnan, average masih oke. Tetapi kalau dibandingkan dengan tahun kemarin, jelas turun,” ujarnya
Menurutnya, salah satu perubahan paling terasa adalah semakin kuatnya persaingan di kanal digital. Kehadiran marketplace, program voucher, hingga penjualan melalui siaran langsung membuat konsumen memiliki alternatif baru untuk mendapatkan barang dengan harga yang dinilai lebih kompetitif.
Kondisi itu membuat pihak Samudra mulai menyiapkan strategi untuk tidak hanya mengandalkan kunjungan konsumen ke toko secara langsung.
Salah satunya dengan membuka divisi marketplace dan mulai memperluas penjualan melalui kanal online.
Selain mencari pelanggan baru, Samudra juga berupaya mengaktifkan kembali pelanggan lama yang sudah tidak berbelanja dalam beberapa waktu terakhir. Data member akan digunakan untuk melihat pola kunjungan pelanggan.
Jika terdapat pelanggan yang sebelumnya rutin berbelanja tetapi kemudian berhenti datang, pihak supermarket akan mencoba mencari tahu penyebabnya, termasuk kemungkinan adanya keluhan terhadap pelayanan maupun produk.
“Bagaimana caranya pelanggan yang sudah tidak berkunjung lagi bisa kembali? Kami punya database member. Kalau ada yang biasanya datang, kemudian beberapa bulan tidak datang, kami coba hubungi. Kalau ada keluhan, akan kami perbaiki,” jelasnya.
Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, persoalan harga bahan pokok juga menjadi tantangan tersendiri bagi peritel.
Salah satu komoditas yang mendapat perhatian adalah beras. Suwaju mengaku harus berupaya menjaga harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), sementara pasokan dari sejumlah pemasok tidak selalu mudah diperoleh dengan harga tersebut.
Bahkan, ada pemasok yang membatasi jumlah beras yang dapat dipesan. Ketika supermarket memesan hingga 10 ton, misalnya, pasokan yang diterima belum tentu sesuai jumlah pesanan.
Keterbatasan pasokan tersebut akhirnya membuat supermarket harus menerapkan pembatasan pembelian kepada konsumen.
Untuk beberapa jenis beras kemasan lima kilogram, pembelian dibatasi maksimal dua kemasan per pelanggan. Sementara jenis kemasan tertentu dibatasi satu kemasan per pelanggan.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mencegah pembelian dalam jumlah besar oleh pihak tertentu yang kemudian menjual kembali barang tersebut.
“Alasannya untuk pemerataan. Kami ingin barang tetap bisa dinikmati customer, bukan hanya diambil dalam jumlah banyak oleh orang tertentu,” katanya.
Di tengah ketatnya persaingan bisnis ritel, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal masih mendapat ruang untuk masuk ke pasar modern.
Saat ini, Samudra menyebut terdapat sekitar 50 hingga 75 UMKM yang produknya dipasarkan melalui jaringan supermarket tersebut.
Jenis produk yang dijual cukup beragam, mulai dari jajanan pasar, kue basah, makanan kering, hingga berbagai jenis keripik.
Produk jajanan pasar menjadi salah satu yang cukup diminati karena memiliki pola konsumen tersendiri. Pada pagi hari, misalnya, sebagian pelanggan memang datang ke supermarket dengan tujuan mencari jajanan untuk konsumsi langsung.
Sementara produk makanan kering seperti keripik singkong juga dinilai memiliki pasar tersendiri.
Ia masih membuka kesempatan bagi pelaku UMKM yang ingin menitipkan produknya. Namun, produk yang masuk tetap harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari administrasi usaha, identitas pemilik, rekening, NPWP, sertifikasi atau label halal, izin edar, hingga ketentuan terkait kemasan dan masa kedaluwarsa.
“Kalau ada item baru tetap kami buka. Nomor admin juga kami cantumkan untuk melayani UMKM maupun supplier baru,” ujarnya.
Namun, tidak seluruh produk yang diajukan otomatis diterima. Sejumlah produk masih harus melalui proses pemeriksaan, terutama berkaitan dengan kemasan, masa kedaluwarsa, legalitas, serta ketentuan produk yang berlaku.
Pihak supermarket juga menekankan pentingnya kesesuaian masa simpan produk dengan standar yang dapat diterima konsumen.
Menjamurnya pusat perbelanjaan dan toko modern di Tuban juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha ritel. Namun, pengelola Samudra melihat persaingan tersebut tidak selalu berarti perebutan konsumen secara langsung.
Karena itu, tantangan bagi peritel saat ini bukan hanya soal siapa yang menawarkan harga paling murah. Lebih jauh, pelaku usaha harus mampu membaca ke mana konsumen bergerak. Apakah mereka berpindah supermarket, beralih ke minimarket, memilih pusat perbelanjaan, atau justru meninggalkan toko fisik dan berbelanja melalui marketplace. (fah)
