Getar MotoGP Ke Tuban, Pembalap Tuban Tidak Mendapatkan Perhatian Pemkab

7
Foto ilustrasi.

kabartuban.com – Mata dunia sedang tertuju kepada Indonesia dalam dunia balap motor internasional. Setelah sukses digelar World Superbike (WSBK) pad 19-20 Nobember 2021 kemarin, di sirukit Mandallika Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) yang disebut sebagai surga baru bagi pembalap dunia, akan digelar ajang balap motor kasta tertinggi di dunia, MotoGP 2022.

Olahraga balap motor menjadi semakin trend bagi kalangan anak muda Indonesia, bagi mereka yang memilliki hobi balap motor, tentu saja hadirnya sirkuit Mandalika yang telah mendatangkan rider dunia sangat menginspirasi. Untuk menjadi salah satu rider dunia, tentu saja adalah mimpi yang saat ini masih sangat jauh dari kenyataan.

Getar gelora sirkuit Mandalika juga sampai di Kabupaten Tuban. Mulai para penggemar MotoGP yang telah mengagendakan berangkat ke Lombok pada bulan Maret 2022 mendatang, hingga anak-anak muda penghobi balap motor yang semakin terinspirasi.

Dari hasil penelusuran kabartuban.com ke sejumlah komunitas anak motor di Tuban, para penghobi balap motor di Tuban sangat menyesalkan Pemerintah yang hingga saat ini tidak memperhatikan hobi dan olahraga balap motor, khususnya di Tuban. Gelaran MotoGP di Indonesia membuat darah balap mereka semakin mendidih.

“Sebenarnya anak-anak itu, akan sangat senang sekali jika disediakan tempat atau sirkuit balap. Meskipun harus membayar, tidak masalah, karena memang hobinya balapan,” ungkap salah satu penghobi balap di Tuban, yang enggan disebutkan namanya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pemerintah harus peka dan memberikan ruang ekspresi bagi anak-anak yang memiliki hobi balapan, di tempat yang layak sehingga tidak dilakukan di jalan dan rawan kecelakaan. Menurutnya, dengan diberikan fasilitas tempat balapan, hal itu akan meminimalisir kecelakaan saat hobi balap dilakukan.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tuban dalam hal ini Endro Budi Sulistyo Plt Disparbudpora Tuban mengatakan, anak-anak muda penghobi balap motor di Tuban telah menyalahgunakan potensinya dengan mengekspresikannya melalui balap liar, hingga pernah terjadi korban meninggal dunia. Meskipun demikian, Endro mengaku hingga saat ini Pemkab Tuban belum memiliki solusi, alternatif, bahkan pemikiran untuk menyediakan tempat balapan di Kabupaten Tuban.

“Sampai saat ini Pemkab Tuban belum sempat menyediakan tempat balapan. Kami berharap anak-anak muda di Tuban bisa menghindari balapan-balapan liar tersebut karena dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat,” katanya.

Dalam catatan kabartuban.com menyebutkan, pada bulan Juni 2021 aksi balap liar di Jl. Soekarno-Hatta Tuban dibubarkan oleh petugas kepolisian. Pembubaran tersebut dipicu aksi tawuran yang terjadi di lokasi balap liar. Sebanyak 44 remaja dan 29 unit sepeda motor diamankan petugas.

Kemudia pada bulan September 2021 yang lalu, Polisi kembali membubarkan aksi balap liar di lokasi yang sama pada jam tengah malam. Dalam pembubaran tersebut, petugas mengamankan 12 sepeda motor dan yang sudah dimodifikasi di luar standart. (hin/nat/im)